Dari data kegempaan yang diperoleh detik.com melalui situs resmi PVMBG, Senin (6/12/2010), tercatat dalam periode 26-29 Nopember 2010 terjadi erupsi secara menerus yang dicirikan oleh amplituda tremor maksimum 32 mm. Gempa vulkanik yang terjadi selama erupsi sangat dangkal sehingga tidak berkaitan langsung dengan suplay energi di dalam kantong magma. Sejak tanggal 29 November 2010, akitvitas kegempaan menunjukkan penurunan yang siginifikan bila dilihat dari amplituda tremor menerus dari maksimum 32 mm sebelumnya menjadi maksimum 5 mm. Kondisi ini berlangsung stabil sampai tanggal 6 Desember 2010.
Nilai pelepasan energi kegiatan erupsi di permukaan diukur menggunakan indeks RSAM (Realtime Seismic Amplitude Measurement). Indeks RSAM tertinggi pada status awas terjadi pada tanggal 23-29 November 2010. Kemudian sesudahnya mengalami penurunan secara signifikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari tanggal 25 November-05 Desember 2010 pengukuran deformasi EDM antara dua titik ukur POS-BAT dan POS-BRO menunjukan pemanjangan dan POS-KUR menunjukan pemendekan. Deformasi yang terjadi sangat berkaitan dengan proses pengempisan tubuh G. Bromo atau pelepasan energi sudah mulai berkurang secara berarti.
Berdasarkan hasil pengamatan dan analisa data kegempaan, visual, deformasi, dan potensi bahaya erupsi maka status kegiatan G. Bromo diturunkan dari awas (Level 4) menjadi siaga (Level 3) sejak 6 Desember 2010 pukul 12.45 WIB.
Meskipun status sudah diturunkan PVMBG tetap memberikan rekomendasi kepada masyarakat di sekitar Gunung Bromo dan pengujung, wisatawan, dan pendaki untuk tidak diperbolehkan memasuki kawasan dalam radius 2 km dari kawah aktif Gunung Bromo.
(van/ndr)











































