Tokoh Konservasi Dunia Hadiri WISDOM 2010 di UGM

Tokoh Konservasi Dunia Hadiri WISDOM 2010 di UGM

- detikNews
Senin, 06 Des 2010 17:14 WIB
Yogyakarta - Acara World Conference on Culture, Education and Science - WISDOM 2010 digelar di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Tokoh konservasi kreatif dunia dari Perancis, Jean-Michel Cousteau hadir dalam acara tersebut.

Dalam acara itu dia menyampaikan pesan kunci berkaitan dengan peran penting kearifan lokal dalam usaha konservasi lingkungan, terutama kelautan. Menurut dia, laut di masa mendatang akan menjadi sumber penghidupan bagi seluruh umat manusia.

"Apalagi 70 persen seluruh bumi terdiri atas lautan," katanya, Senin (6/12/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, laju pembangunan perkotaan secara besar-besaran mengakibatkan hilang dan rusaknya ekosistem laut. Dia mencontohkan, adanya tumpukan sampah yang ada di Samudera Pasifik bagian utara yang menyebabkan banyaknya spesies ikan yang mati. Padahal di daerah itu merupakan pertemuan arus panas dan dingin, tempat berkumpulnya ikan-ikan dari berbagai penjuru.

"Ada berbagai macam sampah yang berasal dari 32 negara. Sampah-sampah itu membuat ikan-ikan banyak yang mati," katanya.

Menurut dia, saat ini diperlukan pendidikan tentang pembangunan keberlanjutan kepada generasi muda untuk menjaga kelestarian ekosistem laut. Hal itu bisa dilakukan melalui bangku sekolah. "Pendidikan seperti itu bisa dimulai dari pengetahuan ekosistem sungai, danau dan laut," ujar pria kelahiran Prancis 1938 ini.

Saat tampil sebagai pembicara kunci, melalui tayangan video dia menunjukkan beberapa kegiatan beberapa nelayan yang menangkap ikat hiu dan paus. Ikan-ikan besar itu kemudian dibuang hidup-hidup setelah dipotong siripnya. Tidak hanya menyampaikan kondisi laut, ia juga menyinggung laju deforestasi hutan yang terjadi di Indonesia.

Menurutnya, hal itu bisa diatasi apabila masyarakat yang tinggal di daerah hutan untuk ditingkatkan kesejahteraan ekonomi yang labih baik sehingga mereka tidak lagi mengeksploitasi hutan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. "Harus ada perbaikan hutan-hutan tropis saat ini agar ekosistemnya terjaga," katanya.

Dalam acara selama 4 hari yang dihadiri oleh berbagai perguruan tinggi itu Rektor UGM, Prof Ir Sudjarwadi, MEng di Grha Sabha Pramana (GSP) mengatakan penyelenggaraan WISDOM sempat mengalami penundaan berkenaan bencana erupsi Merapi, namun akhirnya dapat dilaksanakan.

Sudjarwadi menilai, masyarakat dunia dengan berbagai permasalahannya saat ini memerlukan solusi global yang dapat diselesaikan melalui berbagai kearifan lokal yang dikombinasikan dengan temuan pengetahuan dan inovasi untuk bisa hidup harmonis dengan alam. "Khususnya untuk Merapi, UGM telah belajar pengetahuan baru dan akan terus belajar bersama mengusahakan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat di sekitar lereng Merapi," tuturnya.

Ia menambahkan, sehubungan dengan pasca bencana erupsi Merapi, yang terpenting untuk dilaksanakan saat ini adalah mendorong masyarakat untuk bisa hidup lebih harmonis dengan gunung api paling aktif di dunia. "Gunung Merapi akan memberikan pelajaran kepada semua orang tentang mengatur hubungan sumber daya alam dan manusia dalam konteks sosial, ekonomi, budaya, politik dan lingkungan," katanya.

(bgs/fay)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads