"Setelah saya telisik ternyata itu datanya LSI versi Denny JA," kata Ganjar kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (6/12/2010).
Menurut politisi PDIP ini, seharusnya sejak awal Dirjen Otda mengumumkan dari mana sumber data yang disampaikannya. Sebab, hal ini bisa menjadi isu yang sensitif terutama bagi warga Yogyakarta. Selain itu, data tersebut juga bisa membangkitkan dorongan dari warga untuk pelaksanaan referendum.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi Ganjar, pernyataan itu adalah sesuatu hal yang ceroboh. Sebaiknya, Kementerian Dalam Negeri sebelum melansir data, membandingkan dulu dengan survei lainnya.
Sementara pihak Lingkaran Survei Indonesia membantah apa yang dikatakan Ganjar Pranowo tersebut. Salah satu peneliti Lingkaran, Eriyanto, mengatakan lembaganya tidak pernah melakukan survei pemilukada yang berkaitan dengan Yogyakarta.
"Kalau pun pernah bikin kuesioner, yang pernah kita dulu bikin penelitian dengan Depdagri tahun 2005 soal pilkada, secara keseluruhan nasional, bukan soal Yogya. Mengenai puas nggak dengan pilkada dan puas nggak dengan calon-calon yang diusung di pilkada," jelas Eriyanto meluruskan.
Pada hari Sabtu (4/12), Dirjen Otonomoi Daerah Kemendagri Djohermansyah Djohan mengatakan, dari hasil survei 71 persen rakyat Yogya menghendaki adanya pemilihan langsung. Namun Djohan tidak bisa menyebutkan lembaga survei atau instansi mana yang telah mengeluarkan survei tersebut.
"Saya pernah baca itu tapi lupa dari mana. Bukan pemerintah, saya pernah baca," katanya.
(nwk/nrl)











































