"Dilihat dari sejarah ICMI, ada 2 waktu yang berbeda. Pertama, tahun 90 hingga akhir 90-an, di mana ICMI sangat dekat aromanya dengan kekuasaan. Lalu pada awal 2000 hingga sekarang, ICMI reorientasi, menjaga jarak dari kekuasaan," ujar Burhanuddin Muhtadi dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) dalam perbincangan dengan detikcom, Senin (6/12/2010).
Menurutnya, ICMI harus lebih proaktif dalam persoalan keumatan. Hal itulah yang seharusnya semakin dikuatkan dan ditegaskan dalam muktamar yang masih berlangsung di Bogor, Jawa Barat. Kalau masih ada orang yang berkeinginan masuk ke dalam kekuasaan melalui ICMI, Burhanuddin berpendapat, hal itu kuno. Keinginan itu muncul karena ketidakpahaman terhadap ICMI yang cenderung berjalan di jalur sosial dan kultural.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di ICMI, para aktivisnya akan diuji ketulusan dan keikhlasannya, termasuk yang berasal dari kalangan parpol. Ke depannya akan terlihat apakah aktivis ICMI benar-benar peduli umat atau sekadar mencari tiket untuk tujuan politik.
"Yang punya syahwat politik di ICMI salah arah. Mereka yang begini nantinya akan mengundurkan diri pelan-pelan dari ICMI," ucap pria berkacamata ini.
Sekarang ini, lanjut dia, ICMI sudah berada di jalan yang benar. Meski memang kini ICMI jauh dari publikasi karena menjauh dari kekuasaan dan juga jauh dari tepuk tangan, namun implikasi jangka panjangnya kepada umat jauh lebih penting.
"Parpol akan menggunakan segala cara, termasuk melalui organisasi sosial kemasyarakatan. Karena itu akan lebih baik kalau di muktamar, ICMI memperjelas kontribusinya bagi umat, terutama di bidang ekonomi. Potensi ICMI sebagai ide, bukan basis massa," tutur Burhanuddin.
(vit/nrl)











































