"Sekitar 110 warga desa saya mengungsi ke Desa Gagatakan, khawatir banjir susulan datang lagi," kata Yoyok, warga asal Dusun Kadirogo, Desa Jumoyo, Kecamatan Salam, kepada detikcom, Senin (6/12/2010).
Sementara truk penambang pasir yang disopiri Resma yang sempat ikut hanyut dan terjebak di Kali Putih, pagi ini sekitar pukul 06.30 WIB berhasil dievakuasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan 4 rumah warga yang terendam di Desa Sirahan, dua di antaranya rusak yaitu milik Nursidi dan Cip Marsudi.
"Banjir lahar dingin besar datang dua kali. Menghantam rumah kami juga dua kali. Saat itu saya sedang di rumah ketika banjir lahar dingin yang kecil datang. Saya langsung menyingkir," kata Nursidi. Selang 20 menit, datang lagi lebih besar dan akhirnya rumah terendam," tambahnya.
Rumah Nursidi sendiri miring ke arah kanan sementara meja, kursi dan tempat tidur terendam. Kandang unggas miliknya ikut ambruk. Sedangkan genteng bagian belakang rumah Cip Marsidi jatuh dan biliknya keluar dari pondasi. Jarak antara rumah mereka dan tepi Kali Putih yang semula 7-10 meter, berkurang hingga hanya menyisakan 60 cm.
Dari keempat rumah tersebut, sebanyak 16 jiwa telah mengungsi terdiri dari 9 anak-anak, 3 ibu-ibu dan lainnya bapak-bapak.
"Semua ngungsi di Dusun Glagah, Desa Sirahan, Kecamatan Salam. Di rumah milik Prawiro Slamet," terang Purwanto, salah satu pemilik rumah yang ikut terendam.
Menurut pantauan detikcom, cuaca daerah Kali Putih cerah sementara arus lalu lintas melambat karena banyak warga yang berhenti sejenak untuk melihat kondisi Kali Putih. Aparat kepolisian setempat pun sudah tidak terlihat lagi. Sedangkan di pinggir Kali Putih terdapat 2 truk penambang pasir yang berasal dari Semarang sedang mengambil pasir yang berada di tepi sungai.
(feb/nrl)










































