Rumah-rumah tersebut adalah milik Purwanto, Nursidi, Ali Karyo, dan Cip Marsudi. Material yang dibawa oleh banjir lahar dingin masuk hingga ketinggian 60 cm dan meninggalkan material vulkanik seperti pasir dan lumpur di dalam rumah.
Sebanyak 16 warga Dusun Sirahan, Kecamatan Salam terpaksa mengungsi ke rumah kosong milik tetangga di sekitar desa mereka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Purwanto menjelaskan keempat rumah tersebut tepat berada di pinggir Kali Putih. Meski cukup tinggi letaknya, tetap saja terendam lahar karena kali ini sudah mengalami pendangkalan sekitar 1-3 meter.
Kepala Desa (Kades) Jumoyo Sungkono mengatakan, akibat banjir lahar dingin, sebanyak 350 warga Dusun Gempol, Desa Jumoyo, Kecamatan Salam juga mengungsi ke Balai Desa Jumoyo dan Gedung PHRI di Desa Gulon, Kecamatan Salam, Magelang.
"Warga ketakutan karena banjir lahar sangat besar. Tak ada yang berani masuk ke rumah," tegas Sungkono.
Sungkono menjelaskan letak Dusun Gempol, Desa Gulon, Kecamatan Salam tepat di sisi Kali Putih sehingga sangat berbahaya untuk ditempati.
Banjir Kali Putih kali ini, imbuh Sungkono, jauh lebih besar ketimbang banjir lahar dingin sebelumnya pascaerupsi Merapi 40 hari yang lalu. Sungkono menambahkan, banjir lahar dingin meluap hingga ke jalan raya Magelang-Jogjakarta Km 23 Magelang, Jawa Tengah akibat kesalahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang menutup alur Kali Batang.
"Penutupan jalur lahar di Kali Batang membuat aliran lahar terkonsentrasi di Kali Putih. Ini tentu sangat membahayakan masyarakat. Harusnya aliran lahar dibiarkan alami saja," tegas Sungkono.
(mok/mok)











































