"Saya ini memang seorang ekonom tapi saya tidak pernah melihat sebelah mata Pak Habibie, beliau itu idola saya. Dan memang saya juga pernah menjadi anak buah beliau," kata Boediono dalam sambutannya di Istana Bogor, Minggu (5/12/2010).
Pernyataan Boediono itu langsung disambut tepuk tanggan 1.000 orang peserta Muktamar V tersebut. Boediono kemudian melanjutkan membaca teks pidato yang telah disiapkannya. Ia tampak mengenakan batik hitam dengan corak berwarna merah.
Boediono menilai, hadirnya Habibie di ICMI membuat organiasi itu menjadi icon perpaduan antara iman dan takwa serta iptek. "ICMI berada pada garda terdepan dalam reformasi," katanya.
Boediono menyatakan, belum lama ini Habibie Center merayakan ulang tahunnya yang ke-11. Sedangkan hari ini juga digelar acara milad ICMI ke-20. "Saya rasa ini ada benang merah, antara ultah Habibie Centre dan milad ICMI. Di mana itu menunjukkan tantangan besar untuk ke depan. Perjalanan ini masih banyak risikonya yang harus kita kawal," katanya.
Boediono menyatakan ICMI sudah memberi sumbangan untuk memajukan Indonesia. Namun pembangunan belum selesai dan masih banyak agenda yang harus dilakukan.
"Kita adalah generasi yang menanamkan pondasi. Lebih banyak memberi daripada mengambil," katanya.
Boediono menilai, ICMI adalah organiasi yang peduli dengna rakyat. Kepedulian itu dikombinasikan antara iptek dan imtak. ICMI dan seluruh ormas Islam harus besatu. "Kita harus bersatu, karena dalam era yang tajam ini sulit jika bercerai," katanya.
(nal/nrl)











































