"Agar hati-hati berkomentar kalau dasarnya masih sumir, karena hasil jajak pendapat di media, mayoritas rakyat Yogya mendukung penetapan. Kami minta hati-hati," tegas Priyo saat dihubungi detikcom, Minggu (5/12/2010).
Pernyataan Priyo itu menanggapi pernyataan Djohan bahwa pihaknya mempunyai data survei: 71 persen rakyat Yogya menginginkan gubernur-wakil gubernur DIY dipilih langsung lewat Pemilukada. Namun, saat ditanya lebih lanjut, Djohan menyatakan, sumber data survei itu bukan berasal dari pemerintah. Dia juga tidak bisa mengingat siapa yang mengadakan survei.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Priyo melanjutkan, pernyataan Dirjen Otda haruslah berdasar data-data konkret. Sebab jika tidak, hal itu hanya akan memanaskan kembali kondisi Yogyakarta.
"Pejabat pemerintah agar menjaga komentar supaya tidak disalahpahami dalam suasana begini. Tapi kalau (surveinya) sahih, silakan saja," kata politikus Partai Golkar ini.
Priyo mengatakan, penyodoran data survei yang berbeda dari kondisi di lapangan saat ini, juga bisa memperbesar desakan referendum. Namun, ia menilai referendum bukan solusi.
"Pemerintah pusat pasti dipermalukan. Referendum sebaiknya dihindari karena membebani negara," kata Priyo.
Seperti diketahui, meski draf RUUK DIY belum disampaikan ke DPR, pemerintah menyatakan, draf berisi klausul gubernur-wakil gubernur DIY dipilih langsung lewat Pemilukada. Sementara Sri Sultan Hamengku Buwono dan Sri Paduka Paku Alam diposisikan di atas gubernur-wakil gubenur, dengan sejumlah kewenangan tertentu. Namun, semuanya usulan pemerintah ini tergantung pembahasan dengan DPR nantinya.
(lrn/nrl)











































