Jamaah haji Indonesia mulai pulang ke tanah air sejak Sabtu, 20 November 2010. Hingga hari ini, pemulangan ke Tanah Air sudah mencapai lebih dari 190 penerbangan.
Dari catatan Daker Jeddah hingga masa pemulangan Jumat (3/12/2010), penerbangan yang tepat waktu hanya 8 penerbangan. Rinciannya, 7 penerbangan dari Saudi Arabian Airlines dan 1 penerbangan Garuda. Saudi Arabian juga mencatat ada 2 penerbangannya yang lebih cepat dari jadwal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali memberi perhatian serius atas kasus delay tersebut. Suryadharma, yang menjadi korban delay 9 jam, itu menilai pelayanan Garuda Indonesia pada musim haji tahun ini buruk dan mengecewakan.
Hampir sebagian besar proses pemulangan jamaah haji mengalami keterlambatan. "Saya saja terlambat sembilan jam. Kemudian Sekjen saya dua puluh sembilan jam. Ada juga yang lain sampai dua puluh empat jam. Kondisi seperti ini merugikan jamaah haji," kata Suryadharma.
Jika Garuda Indonesia tidak memperbaiki pelayanan, kata dia, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) akan menjajaki maskapai lain yang dianggap mampu melayani pemberangkatan dan pemulangan jamaah haji Indonesia. Baik dari sisi ketersediaan pesawat, kesiapan manajemen maupun kordinasi dengan Pemerintah Arab Saudi.
Dalam penjelasan kepada Menag yang dikirim PPIH Jeddah melalui Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Jumat (3/12/2010), Garuda antara lain berdalih keterlambatan tidak bisa terelakkan lantaran keterbatasan fasilitas di King Abdul Azis. Keterbatasan itu antara lain, saat ini pintu (gate) di King Abdul Azis hanya 14 buah. Sementara seluruh penerbangan haji tahun ini mencapai 2.700 penerbangan, dengan rata-rata per harinya mencapai 180 penerbangan.
Pada kondisi tersebut, Garuda hanya mendapatkan layanan satu gate, sementara penerbangan yang harus dijalani mencapai 303 penerbangan dan mengangkut 119.000 jamaah.
Kendala lain adalah tempat parkir pesawat (apron A, C, West Apron dan North Terminal) belum menampung seluruh pesawat.
Ahda menambahkan, Garuda juga beralasan keengganan petugas keamanan bandara memeriksa secara manual jika ditemukan benda logam pada jamaah juga menambah kelambanan proses di bandara. Garuda juga beranggapan manajemen pengelolaan terminal haji yang diserahkan ke pihak ketiga juga berpengaruh membuat pelayanan menjadi lamban. Sebab petugas yang diterjunkan dinilai banyak yang belum berpengalaman.
"Selain lewat Jeddah, pemulangan jamaah juga akan lewat Bandara Amir Muhammad Bin Abdul Aziz (AMMA). Untuk Madinah kemungkinan kecil terjadi delay. Dari pengalaman tahun lalu seperti itu. Tapi ini tetap harus diantisipasi karena adanya perbaikan di AMAA," jelas Zainal.
(iy/lrn)











































