Diusulkan Ada Pesawat Khusus untuk Jamaah Sakit

Laporan dari Arab saudi

Diusulkan Ada Pesawat Khusus untuk Jamaah Sakit

- detikNews
Jumat, 03 Des 2010 16:15 WIB
Diusulkan Ada Pesawat Khusus untuk Jamaah Sakit
Jeddah - Jamaah yang sakit berat seperti stroke atau patah kaki mengalami kesulitan bila harus pulang ke tanah air dengan menggunakan pesawat biasa. Diusulkan ada pesawat khusus yang bisa mengangkut jamaah ini bila ingin pulang lebih awal.

"Pasien sakit ini menjadi persoalan rutin tahunan, tidak salahnya jika dicoba dengan pengangkutan pesawat khusus,” kata Wakil Kepala Bidang Kesehatan Daker Jeddah dr Eka Yusup Singka, Jumat (3/12/2010).

Dijelaskan Eka, sebagian besar jamaah yang sakit menginginkan pulang ke tanah air lebih awal (tanazul). Namun tidak semua jamaah bisa di-tanazul-kan karena terkendala seat dan kondisi pasien.Jamaah yang sakitnya tidak parah bisa dengan mudah ditanzulkan, sebab mereka bisa duduk layaknya penumpang biasa tanpa harus ada seat khusus.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Namun bagi jamaah yang sakit berat seperti stroke atau patah kaki, cukup kesulitan jika harus tanazul dengan menggunakan pesawat biasa," jelas Eka.

Jamaah yang sakit berat, selama ini biasanya diminta menjalani perawatan lebih dulu di Arab Saudi hingga layak untuk ikut penerbangan. Namun jamaah umumnya tidak sabar pulang ke Tanah Air dengan kondisi yang sebenarnya belum layak terbang.

Kehadiran pesawat ini khusus ini tentu akan sangat membantu pemulangan jamaah dengan kondisi tersebut. Karena khusus untuk orang sakit, pesawat ini juga didesain khusus
bagi orang sakit berikut tempat duduk pagi petugas pendamping.

Dari catatan petugas dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), jamaah sakit yang tengah dirawat di Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) Mekkah saat iniΒ  mencapai 110 orang. Sementara itu, jamaah yang dirawat di Jeddah mencapai 30 orang, dengan rincian 16 BPHI dan sisanya di rumah sakit Arab Saudi.

Ketua Tim Kesehatan Kemenkes dr Chaerul Rajab Nasution mengakui jumlah jamaah haji Indonesia yang sakit masih tinggi. Bahkan jamaah haji Indonesia yang masuk dalam golongan berisiko tinggi (risti) mencapai 50% dari total 221.000 jamaah. Angka kematian pasca Armina selalu tinggi karena jamaah sangat kelelahan.

(iy/ken)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads