"Pasien sakit ini menjadi persoalan rutin tahunan, tidak salahnya jika dicoba dengan pengangkutan pesawat khusus,β kata Wakil Kepala Bidang Kesehatan Daker Jeddah dr Eka Yusup Singka, Jumat (3/12/2010).
Dijelaskan Eka, sebagian besar jamaah yang sakit menginginkan pulang ke tanah air lebih awal (tanazul). Namun tidak semua jamaah bisa di-tanazul-kan karena terkendala seat dan kondisi pasien.Jamaah yang sakitnya tidak parah bisa dengan mudah ditanzulkan, sebab mereka bisa duduk layaknya penumpang biasa tanpa harus ada seat khusus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jamaah yang sakit berat, selama ini biasanya diminta menjalani perawatan lebih dulu di Arab Saudi hingga layak untuk ikut penerbangan. Namun jamaah umumnya tidak sabar pulang ke Tanah Air dengan kondisi yang sebenarnya belum layak terbang.
Kehadiran pesawat ini khusus ini tentu akan sangat membantu pemulangan jamaah dengan kondisi tersebut. Karena khusus untuk orang sakit, pesawat ini juga didesain khusus
bagi orang sakit berikut tempat duduk pagi petugas pendamping.
Dari catatan petugas dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), jamaah sakit yang tengah dirawat di Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) Mekkah saat iniΒ mencapai 110 orang. Sementara itu, jamaah yang dirawat di Jeddah mencapai 30 orang, dengan rincian 16 BPHI dan sisanya di rumah sakit Arab Saudi.
Ketua Tim Kesehatan Kemenkes dr Chaerul Rajab Nasution mengakui jumlah jamaah haji Indonesia yang sakit masih tinggi. Bahkan jamaah haji Indonesia yang masuk dalam golongan berisiko tinggi (risti) mencapai 50% dari total 221.000 jamaah. Angka kematian pasca Armina selalu tinggi karena jamaah sangat kelelahan.
(iy/ken)











































