Hal inilah yang terjadi di Kantor Wapres, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (3/12/2010) siang tadi. Usai salat Jum'at, wartawan yang membutuhkan komentar Boediono tentang RUU keistimewaan Yogyakarta, mencoba 'mendekati' guru besar UGM ini.
Usai salat Jumat di Mesjid Baiturrahman yang berada di kompleks kantor Wapres, Boediono memang harus berjalan sekitar 100 meter untuk menuju ruang kantornya. Ketika melewati ruang press room, sejumlah wartawan mencoba menanyai, tentunya dengan strategi 'halus' agar Boediono angkat bicara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Boediono yang didekati, sempat memperlambat langkahnya, untuk mendengar pertanyaan wartawan. Setelah dia dengar,Β ia lalu melempar senyum, sambil mengacungkan jempol kanannya ke arah wartawan. "Saya selalu berpikir yang terbaik," ucapnya singkat.
Ketika wartawan mencoba mendekati lebih dekat, Boediono mulai mempecepat langkahnya, dan agak menjauh, tanda enggan untuk di doorstop lebih lanjut. Tapi ia tetap mengeluarkan 'jurus' nya; tersenyum dan mengacungkan jempol. Lalu ia berlalu.
Setahun lebih menjabat sebagai Wapres, Boediono memang terkenal 'hemat' bicara. Kata-katanya dikutip wartawan hanya ketika ia pidato secara resmi di sambutan sebuah acara, atau memanggil wartawan secara khusus jika ingin menyampaikan sesuatu yang erat dengan program kerjanya. Padahal, sewaktu acara Press Gathering di Istana Bogor pada Agustus 2010 lalu, Boediono pernah berjanji tidak akan puasa bicara lagi.
(gun/mok)











































