"Kita tidak akan menumbangkan pohon untuk pembangunan jalan layang di ruas jalan itu. Ini bagian dari program pembangunan hijau kita," ujar Kepala Bidang Jembatan Dinas Pekerjaan Umum DKI, Novizal, saat dihubungi detikcom, Jumat (3/12/2010).
Untuk tidak menumbangkan pohon, pembangunan jalan layang tersebut akan dibuat cukup tinggi dari tanah. Jarak antara tanah dengan jalan layang di atasnya akan dibuat setinggi 10-12 meter.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pembangunan jalan layang tersebut juga diklaim tidak akan terlalu mengganggu lalu lintas di kawasan padat lalu lintas itu. Karena proses pengerjaannya hanya dilakukan saat malam hari.
"Tiang pancangnya juga kita buat di trotoar tidak di jalan, jadi lalu lintas relatif sama dengan biasanya," tambahnya.
Pembangunan dua jalan layang tersebut akan menelan dana sekitar Rp 2,02 triliun, dengan rincian untuk jalan layang Antasari hingga ke Blok M sepanjang 5,5 km menelan sekitar Rp 1.3 triliun dan jalan layang Dr Satrio yang menghubungkan Kampung Melayu hingga ke Tanah Abang, panjangnya sekitar 2,3 km menelan Rp 700-an miliar.
"Ukuran jalannya kita buat sama yaitu 8,75 x 8,75 meter, itu untuk dua ruas jalan. Pengerjaan sudah mulai dilakukan sejak 22 November lalu, target pertengahan 2012 sudah selesai," imbuhnya.
Sebelumnya Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengatakan bahwa untuk mengatasi kemacetan di Ibukota yang semakin parah tidak bisa dilakukan dengan menambah jalan ke samping, melainkan harus ke atas. Jalan susun atau jalan layang pun akan dibuat untuk mengurangi angka kemacetan di Ibukota.
Pada akhir November, penggalian lubang untuk pondasi tiang pancang telah dilakukan di dekat bundaran Kantor Walikota Jakarta Selatan di Jl Prapanca. Proyek ini membuat lalu lintas macet.
(her/nrl)










































