Kakatua Jambul Kuning Terancam Punah Akibat Perdagangan Ilegal

- detikNews
Rabu, 01 Des 2010 13:27 WIB
Jakarta - Dari enam jenis burung kakatua di Indonesia, yang paling terancam punah adalah kakatua jambul kuning. Kakatua jambul kuning dijual secara ilegal ke Singapura dan AS.

Demikian disampaikan Communication and Media Relation Burung Indonesia, Fahrul P Amama dalam siaran pers yang diterima detikcom, Rabu (1/12/2010). Menurutnya, di dunia ada 13 jenis burung paruh bengkok bermarga Cacatua. Enam di antaranya dapat ditemukan di Indonesia, dan sebagian besar berada di Maluku.

Keenam jenis kakatua tersebut adalah kakatua putih (Cacatua alba), kakatua tanimbar (Cacatua goffiniana), kakatua rawa (Cacatua sanguinea). Selanjutnya ada kakatua maluku (Cacatua moluccensis), kakatua koki (Cacatua galerita) dan kakatua kecil jambul kuning (Cacatua sulphurea).

Di antara keenam jenis itu, lanjut Fahrul, kakatua kecil jambul kuning merupakan jenis kakatua dengan daerah persebaran yang paling luas di Indonesia. Jenis ini tersebar di Sulawesi dan Nusa Tenggara. Namun, wilayah persebaran yang luas bukanlah jaminan bagi kelestarian jenis paruh bengkok ini. Kakatua kecil jambul kuning justru merupakan jenis kakatua paling terancam punah di Indonesia saat ini.

"Semua anak jenis kakatua kecil jambul kuning menghadapi ancaman dari perburuan untuk diperdagangkan. Sejak 1980, jenis ini diekspor secara rutin dari Denpasar ke San Fransisco, Amerika Serikat. Selama rentang 1981-1992 sebanyak hampir 97 ribu ekor kakatua kecil jambul kuning diekspor keluar Indonesia. Itu angka yang tercatat resmi saja," kata Fahrul.

Lebih jauh Fahrul memaparkan, jenis ini masuk Lampiran I Convention on International Trade in Endangered Spesies of Wild Fauna and Flora (CITES), yang artinya sama sekali tidak boleh diperdagangkan secara komersil. Selain itu, kakatua kecil jambul kuning juga masuk dalam daftar jenis yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah No 7/1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa Liar.

"Setelah ekspor dilarang, kegiatan perdagangan ilegal ternyata tak juga berhenti. Pada 1993, lebih dari seribu ekor kakatua dengan ciri khas jambul dan bulu penutup-telinga berwarna kuning ini diselundupkan melalui Singapura ke pasar global," kata juru bicara LSM Burung Indonesia yang berpusat di Bogor itu.

Fahrul juga menyebut, ancaman lainnya diperparah dengan degradasi habitat yang menempatkan kakatua kecil jambul kuning ke dalam daftar jenis burung yang terancam punah. Kakatua kecil jambul kuning telah dinyatakan kritis oleh lembaga konservasi dunia (IUCN) sejak tahun 2000.

"Status kritis ini menobatkan kakatua kecil jambul kuning menjadi salah satu dari 18 jenis burung di Indonesia dengan status keterancaman tertinggi. Perlu perlindungan khusus dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Perlindungan ini harus mencakup jenis dan habitatnya. Penegakkan hukum juga diperlukan untuk memberikan efek jera bagi para pelaku penangkapan dan perdagangan," tutup Fahrul.

(cha/fay)