Untuk jamaah perempuan, masuk raudah diatur tiga kali dalam sehari. Pertama, setelah matahari terbit, kedua setelah salat zuhur dan ketiga setelah salat isya.
Pengumuman tersebut dipasang di pintu penyekat raudah dalam bahasa Arab dan Inggris. Sejumlah askar berjaga di depan penyekat tersebut untuk mengantisipasi jamaah yang memaksa masuk.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun jamaah tetap saja mengantre. Sebagian tidak menggubris dan tetap berdiri di depan pintu penyekat raudah. "Kita tunggu saja siapa tahu nanti buka," kata Mbah Nah, salah seorang jamaah asal Boja, Kendal, Jawa Tengah.
Sekitar pukul 13.40 waktu Arab Saudi, dinding penyekat yang menuju raudah dibuka. Jamaah segera berebutan masuk. Tapi setelah sekat yang dibuka itu ternyata masih ada sekat lainnya. Sekat kedua yang berupa kayu berplitur coklat itu tetap ditutup.
"Hajjah tidah perlu menunggu, raudah baru akan buka setelah salat isya," kata askar wanita dengan pengeras suara. Dalam bahasa Inggris dan Arab, sang askar terus menerus mengimbau jamaah agar menggunakan waktu untuk berdoa atau membaca Alquran daripada berdiri menunggu raudah dibuka.
Sejumlah jamaah menuruti imbauan sang askar. Namun mayoritas lainnya tetap menunggu dengan setia. Sebagian berdiri, sebagian mulai duduk dan berdoa. Jamaah tetap berharap raudah akan buka siang ini.
Raudah adalah ruangan di Masjid Nabawi yang letaknya di antara mimbar dan kamar Rasullah. Ruangan ini dibingkai penyekat kain berwarna putih.
Hadis riwayat Abu Hurairah menyebutkan Nabi Muhammad bersabda, di antara rumah dan mimbarku adalah taman dari taman-taman surga, dan mimbarku di atas telagaku.
Ibadah yang dilakukan di Raudah, diriwayatkan Ibn Hajar, akan membawa sang pendoa ke surga. Raudah juga merupakan tempat yang mustajab untuk berdoa.
Wajarlah bila Raudah menjadi primadona para jamaah haji. Bahkan para jamaah berebutan dan rela berdesak-desakan untuk bisa berdoa di Raudah.
(iy/rdf)











































