Kelima makam itu adalah makam atas nama Sabar, Joyo, Dullah, Yasari dan satu lagi makam yang tidak diketahui atas nama siapa. Juru kunci makam, Sumanto Utomo (55) menyayangkan kerusakan itu.
Sumanto saat ditemui detikcom Selasa (30/11/201) di Kompleks TPU Dusun Sirahan, menyatakan banjir lahar dingin yang terjadi berkali-kali awalnya hanya menggerus tanggul yang berjarak sekitar 50 meter dari makam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya tidak berani untuk menyelamatkan jasadnya. Ada lima jasad yang ikut hanyut. Dari lima jasad ada sebanyak tiga batu nisan yang terbawa arus banjir lahar dingin," tegas Sumanto.
Sumanto menjelaskan, karena takut banjir lahar dingin, ratusan penduduk desa berkumpul di Masjid Al-Muhadar di Dusun Glagah, Desa Sirahan, Kecamatan Salam, Magelang. "Termasuk saya dan warga lainya ikut mengungsi karena takut ada banjir lahar dingin besar," tegas Sumanto.
Selain menghanyutkan lima makam dengan tiga batu nisannya, banjir lahar dingin yang melanda Kali Putih itu juga mengancam warga sekitar Desa Glagah dan Desa Bayan, Kecamatan Salam.
"Puluhan hektar sawah dan perkebunan juga sudah dimasuki material lahar dingin," tegas Sumanto.
Sumanto berharap pemerintah bias sesegera mungkin untuk melakukan penanggulangan di tepian Sungai Kali Putih. Jika tidak, maka keberadaan ratusan batu nisan dan makam yang lain akan menyusul ikut hanyut diterjang lahar dingin Kali Putih.
Sunarti (42), salah satu keluarga pemilik makam atas nama Joyo menyatakan dirinya tidak bisa berbuat apa-apa dengan hanyutnya makam kakeknya itu.
"Saya hanya bisa pasrah. Mau bagaimana lagi, ini khan kehendak Yang Kuasa. Kita tidak bisa berbuat apa-apa wong ya namanya bencana," tegas Sunarti.
(fay/fay)










































