"Tetapi life must go on (hidup harus jalan terus-red). Dalam kehancuran mereka tetap tegar," kata kurator foto Oscar Matuloh di Galeri Antara, Jl Pasar Baru, Jakarta Pusat, Senin (29/11/2010) malam.
Pendapat Oscar terlontar usai membaca foto-foto karya Ismar Patrizki yang dipamerkan di galeri tersebut. Ismar memajang belasan foto yang bercerita kehidupan sehari-hari warga Gaza, bukan dari sisi hiruk-pikuk konflik. Melainkan dari sudut keseharian yang relatif 'normal' meski tetap tidak bisa lepas dari simbol peperangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi si juru potret, perjalanan ke Gaza adalah persoalan akses dan rasa was-was. Dan Ismar beruntung dapat memasuki Jalur Gaza karena bantuan Bulan Sabit Merah Internasional (BSMI). Pun demikian, sebelum sampai ke tujuan, Ismar tetap membutuhkan waktu satu pekan di Mesir untuk mengurus keimigrasian.
"Saya seminggu di Mesir mengurus surat-surat, dokumentasi. 1 Minggu di Gaza. Foto-foto saya kebanyakan diambil dari kendaraan. Karena disana saya dijaga ketat karena keterbatasan ruang dan stabilitas keamanan," ucap Ismar menceritakan pengalamannya.
Secara teknis, foto-foto Ismar dicetak diatas plat alumunium. Yakni dengan cara dicetak terlebih dahulu pada mesin printer, lalu ditonjolkan di alumunium. Alhasil, teknik yang terbilang baru ini memungkinkan foto tersebut tampil lebih hidup dan menyalak. Ada aroma 3 dimensi dalam setiap fotonya.
Penasaran?
(Ari/anw)











































