menanganinya. Mengatasi macet Jakarta tak bisa dengan cara tunggal.
"Kalau ngomong Jakarta dengan rasio jalannya yang kecil, pertumbuhan yang
tinggi, tidak ada satu pun resep yang ampuh. Jadi, resepnya harus banyak. Karena transport itu pada dasarnya multidisiplin, multidimensi," kata Deputi Gubernur bidang Perindustrian dan Transportasi, Soetanto Soehodo.
Hal itu disampaikan dia usai penandatanganan MoU Pemprov DKI dengan Kapolda
Metro Jaya Irjen Sutarman di Balaikota DKI, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (29/11/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tentunya, yang paling juga bisa kita upayakan, alternatif angkutannya. Jangan sampai orang dibatasi (kendaraan pribadi/parkir) tapi nggak punya alternatif. Mereka bisa pilih alternatif yang dia suka dan mau. Saya sebenarnya tidak menginginkan alternatif itu beralih ke sepeda motor," jelasnya.
Pertumbuhan sepeda motor, imbuhnya, juga sudah pada tingkat yang memprihatinkan. Bila ukuran sepeda motor adalah 1/5 mobil, bukan berarti
penggunaan jalannya juga 1/5 mobil.
"Kayak fleksibilitas dia (motor) justru membuat okupansinya terhadap badan jalan bisa separo bahkan lebih dibandingkan roda 4. Ini yang perlu disadari
masyarakat. Boleh saja jadi alternatif solusi dia, tapi kalau dilihat secara umum bahwa ini adalah domain jalan adalah milik umum dan digunakan oleh umum, ini bisa menimbulkan kemacetan yang luar biasa. Dia bukan berarti 1/5 ukuran fisiknya menjadi 1/5 penyebab kemacetan dibandinkan mobil, itu salah!" tegas dia
Mungkin, suatu saat penggunaan kendaraan roda 2 suatu saat harus dibatasi pula. Tapi tentunya ketika sudah banyak alternatif transportasi yang dimiliki masyarakat .
"Bukan saja performance di jalan raya, tetapi juga tingkat emisi roda dua di jalan memiliki emisi yang lebih besar daripada roda empat. Memang dia irit tapi emisinya besar. Jadi, itu masalah lingkungan yang harus diselesaikan. Kalau semakin banyak orang yang menggunakan sepeda motor nggak bener juga baik secara trafik maupun lingkungan," tandas mantan Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) ini.
(nwk/lrn)











































