"Beredar anggapan cara mengatasi teroris dengan deradikalisasi, program itu hanya menaggulangi radikalisasi saja dan bukan fundametalismenya. Dampaknya tidak akan berhasil program deradikalisasi itu," kata Chaidar.
Pernyataan tersebut disampaikannya usai meberikan Pelatihan Guru se-Jabodetabek, di Wisma LAN, Jl Administrasi II, Pejompongan, Jakarta Pusat, Senin (29/11/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Walaupun tokoh-tokoh terorisme banyak ditangkap saya menilai dakwah mereka lebih sukses daripada pembendungan gerakan terorisme yang dilakukan pemerintah," papar Chaidar.
"Seharusnya dibaregi dengan defundamentalisasi juga, jadi tidak setengah-setengah," imbuhnya.
Mengenai gerakan teroris, Chaidar mengatakan ada perubaha penyerangan. Jika teroris awal mulanya lebih banyak melakukan penyerangan bom bunuh diri secara random, kini gerakan tersebut memilih perag gerilya.
"Bagi mereka kematian Noordin M Top bukan apa-apa. Kalaupun ada penyerangan dengan bom itu haya sisa-sisanya saja," jelasnya.
Dengan memilih perang gerilya, Chaidar menambakan, gerakan teroris mampu menghemat tenaga dan biaya. "Cara bom sahid membuat kehilangan banyak orang dan memerlukan biaya banyak untuk merekrut kebali aggotanya. Jika mereka tertangkap di perang (gerilya) mereka hanya menanggung diam sementara waktu," katanya.
(ahy/ndr)











































