Pengamat pendidikan Arief Rahman mempertanyakan data yang disampaikan Sugiri. Apakah angka itu muncul dari penelitian total atau dengan sampel. Dia mengingatkan agar tidak mengeneralisir data bila penelitian dilakukan dengan sampel.
"Apakah (penelitian) dilakukan di ekonomi bawah, tengah, atau apa. Apakah dilakukan di kalangan yang berpendidikan atau tidak," kata Arief dalam perbincangan dengan detikcom, Senin (29/11/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Apalagi kalau agama kurang, ini juga bisa. Ada yang melakukan ini (seks bebas) karena ingin tahu, ini bisa jadi karena pola pendidikan yang tidak pedulian," terang Arief.
Untuk memberikan pemahaman kepada para remaja, pendidikan seks banyak dilakukan dan didorong sebagian kalangan. Menurut Arief, semua hal yang bisa memperkokoh bangsa, membentengi generasi muda bisa dibicarakan dalam proses pembelajaran. Namun harus dilihat lagi apakah intrakurikuler, ekstrakurikuler atau kokurikuler.
"Tapi saya rasa integral saja di pelajaran. Bisa dengan biologi, agama, bahasa, jasmani, sosiologi," ucap dia.
Tidak perlu dibuat mata pelajaran khusus? "Bisa khusus kalau ketemu kasus besar. Tapi kalau masih baik ya integral saja. Kalau kurang matang malah bisa menggiring melakukan atau kontraproduktif," kata Arief.
Bagaimanapun, lanjutnya, pendidikan di dalam rumah sangat penting bagi anak. Karena itu, pola pendidikan dan pengasuhan haruslah yang peduli pada anak. "Informal di keluarga, nonformal di masyarakat dan formal di sekolah harus sejalan," tutup Arief.
(vit/fay)











































