"Banyak remaja yang dapat informasi dari teman-temannya. Karena dibilang teman 'masak pacaran begitu saja. Mendingan begini (berhubungan seks) enak', maka jadi terpengaruh," kata seksolog dr Boyke Dian Nugraha kepada detikcom, Senin (29/11/2010).
Para remaja itu tergoda melakukannya karena tidak tahu apa bahaya seks pranikah. Apalagi di era globalisasi seperti sekarang ini, informasi tentang berbagai hal termasuk pornografi sangat gampang diperoleh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Boyke menambahkan, usia remaja adalah saat mencari jatidiri. Perilaku idola kerap kali menginspirasi para remaja untuk melakukan hal yang sama. Misalnya saja ketika video asusila mirip artis beredar, para remaja yang mengidolakannya bisa jadi ingin melakukan hal yang sama.
"Karena ingin mencontoh idolanya yang melakukan seperti itu, lalu terjadilah," lanjutnya.
Selain itu, pendidikan seks belum diberikan. Serbuan media tentang hal-hal bersifat pornografi yang membludak bagaimanapun bisa merangsang remaja, lantaran daya tangkalnya tidak ada.
"Karena nggak tahu apa bahayanya, akhirnya yang dilakukan ya cuma meniru," terang Boyke.
Dia menambahkan, nilai agama kurang diberikan secara memadai kepada anak-anak dan remaja. Mereka hanya diberi tahu perilaku ini dosa, yang ini tidak. Tentang surga dan neraka, tanpa penjelasan yang lebih komprehensif mengapa suatu perilaku menjadi haram.
"Jadi kebanyakan hanya berpikir kalau agama itu hanya ritual saja. Padahal dengan agama seharusnya bisa membentengi," jelasnya.
(vit/fay)











































