Hal ini disampaikan oleh Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi, Tri Prasetya, kepada detikcom, Minggu (28/11/2010).
Kerugian cukup besar ini diakibatkan kerusakan yang cukup parah di beberapa wilayah meliputi hutan dan ekosistem flora dan fauna di kawasan Jawa Tengah dan Yogyakarta yang luasnya mencapai sekitar 2.800 hektar dari total luas tanaman nasional 6.410 hektar. Di Kabupaten Magelang sendiri, kerusakan taman nasional mencapai 800 hektar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Tapi untuk pemulihan secara bertahap bisa 10 tahun untuk melihat perubahannya secara signifikan. Dengan catatan, selama waktu kegiatan pemulihan itu tidak terjadi lagi bencana letusan Merapi,” jelas Prasetyo.
Prasetyo memaparkan. 2.800 hektar kawasan taman nasional yang rusak berupa vegetasi pinus, hutan rimba, dan hutan penelitian. Selain kerusakan tersebut, letusan Merapi juga mengakibatkan hilangnya sumber mata air di sejumlah titik di lereng Merapi.
Akibatnya jika terjadi hujan deras, lereng Merapi terancam erosi dan banjir. Apalagi, bangunan dan fasilitas yang ada juga telah roboh.
“Dampak sekunder dari letusan yaitu banjir lahar dingin akibat hujan deras di puncak Merapi, bisa lebih parah lagi dengan kondisi kerusakan yang terjadi tersebut,” ungkap Prasetyo.
Lebih jauh lagi, Prasetyo menambahkan, letusan Merapi telah memusnahkan flora dan fauna di Gunung Merapi. Di lereng Merapi jenis habitat hewan yang selama ini hidup adalah seperti burung Elang Jawa, Elang Hitam, dan lainnya. Burung tersebut saat ini dimungkinkan telah mengungsi ke lereng Gunung Merbabu.
Dalam rangka rehabilitasi, Prasetyo menambahkan, dalam waktu dekat pihaknya akan melakukan kerjasama dengan beberapa instansi. “Seperti misalnya akan menjalin kerjasama dengan Universitas Gajah Mada, Kementerian Kehutanan, dan lainnya untuk mendapatkan blue print bagaimana arah rehabilitasi,” tandasnya.
(van/did)











































