Berdasarkan pantauan detikcom, hari ini Minggu (28/11/2010) warga yang datang menengok kampung/dusun diantaranya warga Dusun Kepuh, Manggong dan Pagerjurang. Mereka datang secara berombongan menggunakan sepeda motor.
Dusun yang telah puluhan tahun mereka huni, saat ini telah menjadi lautan pasir. Hampir semua rumah sudah rusak dan tidak ada lagi pepohonan besar yang masih tegak berdiri. Semuanya nyaris roboh dan terbakar hangus saat erupsi 5 November lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
seperti lautan pasir dan masih banyak sisa pohon yang tumbang dan terbakar.
Jalan aspal di sebelah kantor Balai Desa Kepuharjo juga sudah tidak kelihatan tertimbun pasir. Hanya beberapa tanda pengenal dusun seperti tugu dusun yang tidak rusak dan masih bisa dikenali.
Namun setelah kawasan lereng Merapi diguyur hujan beberapa kali, debu vulkanik mulai hilang terbawa air. Pasir yang menimbun dusun sudah mulai berwarna kehitaman dan memadat. Kontur sungai Gendol maupun dan Opak yang ada di dekat Dusun Batur juga mulai kelihatan. Namun jurang sungai sedalam lebih kurang 50-80
meter sudah dipenuhi material pasir dan batuan. Di sepanjang Sungai Gendol masih
terletak kepulan asap berbau belerang yang menyengat.
"Sekedar menengok dan bersih-bersih rumah saja. Kami ke sini juga yang keempat
kalinya bersama Pak Dukuh," ungkap Harno (50) warga Pagerjurang yang saat ini masih mengungsi di wilayah Kalasan.
Selain menengok kampung, Harno bersama warga lainnya juga membersihkan puing-puing di sekitar rumah. Material pasir halus yang memenuhi di dalam rumah
dikeruk dan dibuang keluar. Di dalam bekas rumah tempat tinggalnya yang terbuat
dari batako, pasir mencapai ketinggi 20-an cm. Sedangkan di halaman hingga
sekitar rumah tetangga lainnya mencapai 50 cm sampai 1 meter.
"Dulu sebelum meletus, rumah saya dengan rumah Pak Widodo ada jalan aspal menurun tapi sekarang sudah rata dan tidak kelihatan lagi," katanya.
Menurut dia, keluarganya masih ingin tetap tinggal di dusun tersebut. Dia juga
akan membangun kembali rumahnya yang telah hancur dengan harta benda yang masih
tersisa. Tidak banyak harta benda yang bisa diselamatkan saat itu. Namun dirinya
maupun warga dusun lainnya belum mengetahui apakah masih boleh ditempati lagi
atau tidak oleh pemerintah.
"Kalau boleh ya nanti akan kami bangun lagi semampunya. Bekas fondasi juga masih
ada, pekarangan dan jalan dusun juga mulai tampak tinggal dibuka saja. Dan nanti
sekitar dusun akan kami tanami tanaman lagi biar cepat hijau," pungkas dia,.
(bgs/gun)











































