Seminggu Perang Kota, Polisi Brazil Ultimatum Geng Narkoba

Seminggu Perang Kota, Polisi Brazil Ultimatum Geng Narkoba

- detikNews
Minggu, 28 Nov 2010 12:35 WIB
Seminggu Perang Kota, Polisi Brazil Ultimatum Geng Narkoba
Rio de Janeiro - Perang kota antara polisi dan ratusan anggota geng narkoba di Rio de Janeiro, Brazil, sudah berlangsung seminggu. 35 Nyawa melayang. Polisi meminta geng narkoba menyerah sebelum matahari terbenam.

"Tidak ada yang mau pertumpahan darah," kata juru bicara polisi militer, Lima Castro seperti dilansir AFP, Minggu (28/11/2010).

800 Pasukan elit dan ratusan polisi federal Brazil kini sedang bersiap-siap menyerbu kawasan kumuh Complexo de Alemao yang dikuasai geng narkoba. Mereka meminta geng narkoba itu menyerah sebelum diserbu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami punya alat pengintai malam dan jumlah kami lebih banyak," kata Castro.

Helikopter polisi wira-wiri di langit Rio dan kendaraan lapis baja merontokkan setiap barikade di jalanan yang dipasang oleh anggota geng narkoba. Para anggota geng narkoba juga dilengkapi aneka senjata mesin.

"Semua kita kuasai. Kita bisa serang dari udara dan darat. Mereka sudah lelah, tak punya makanan, air dan amunisi," kata Castro.

Media di Brazil mengutip sumber polisi, ada 30 bandar narkoba yang menyerah. Menurut pihak berwenang ada 500-600 anggota geng narkoba di kawasan kumuh Rio yang dihuni 400.000 jiwa.

Kota Rio de Janeiro memang bermasalah dengan kejahatan terorganisir. Pemerintah setempat kini berusaha mati-matian membersihkan kota dari para penjahat itu.

Hal ini bukannya tanpa alasan. Rio akan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2014 dan Olimpiade 2016. Padahal, mereka punya banyak kawasan kumuh yang banyak menjadi sarang kejahatan.

Menhan Brazil, Nelson Jobin, telah mengizinkan penggunaan 10 panser, 2 helikopter dan 800 tentara untuk membantu 17.500 polisi dalam perang kota ini. 300 Polisi federal juga diterjunkan.

Ada 2 juta warga Rio yang hidup dalam kemiskinan di kantung-kantung kawasan kumuh. Namun Alemao, adalah daerah kumuh yang paling rawan. Letaknya di perbukitan, penuh gang buntu, dan paling padat huniannya. Pemerintah mengirimkan utusan LSM untuk bernegosiasi, namun belum ada hasilnya.
(fay/nvt)


Berita Terkait