Kesimpulan sementara ini disampaikan Persatuan Dokter Hewan, dari Bukittinggi, Sumatera Barat, Wisnu Wardana saat dihubungi detikcom, Minggu (28/11/2010). Menurutnya, otopsi sudah di lakukan pada Sabtu (27/11/2010) sore.
"Hasil otopsi yang kita lakukan, di dalam tubuh gajah ini ditemukan pendarahan di saluran percernaan. Ini mengindikasikan bahwa gajah itu diracun. Racun yang biasanya dilakukan untuk membunuh gajah jenis pospor dan sianida. Walau demikian untuk memastikan sampel hasil otopsi akan dikirim ke labfor Bukittinggi dan Bogor," kata Wisnu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika gajah mati disebabkan penyakit, maka biasanya tidak akan mengeluarkan darah. Apalagi kematian gajah ini dalam satu lokasi yang saling berdekatan," terang Wisnu.
Gajah yang mati ini, lanjut Wisnu, kemungkinan termakan racun yang jaraknya paling jauh 2 km dari tempat kematiannya. "Karena setelah racun dimakan, gajah masih sempat bertahan beberapa jam dan biasanya masih mampu berjalan paling jauh 2 km," jelas Wisnu.
Sementara itu, aktivis WWF Riau, Soemantri menyebut, 5 ekor gajah ini yang mati
ini, terdiri satu jantan empat betina. Usianya diperkirakan antara 3 tahun sampai 7 tahun.
"Kalau melihat usia gajah yang mati ini, maka indikasi mati karena perburuan gading sangat tidak mungkin. Jadi kita juga menduga gajah ini mati sengaja diracun karena mungkin dianggap mengganggu perkebunan milik warga," jelas Abeng, begitu sapaan akrabnya.
WWF mendesak pihak kepolisian untuk mengusut tuntas pembunuhan gajah ini. Siapapun yang terlibat dalam pembunuhan ini harus segera ditangkap.
"Bila hukum lingkungan tidak ditegakkan, maka kasus yang sama akan terus berulang di Riau ini. Polisi tidak boleh tinggal diam dalam kasus ini," harap Abeng.
(cha/gun)











































