Inilah gambaran sebuah toko yang terletak di Jl Sutomo, Pematang Siantar, Sumatera Utara. Toko ini terkenal karena teh susu serta cita rasa kopinya yang begitu khas.
"Saya adalah generasi ke tiga yang menjalankan bisnis ini," ujar A Chong, penerus bisnis ini, saat berbincang dengan detikcom beberapa waktu lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
A Chong tidak bisa mengingat lagi, kapan tepatnya sang Kakek memulai usaha ini. Hanya saja, jelas A Chong, saat itu Jl Sutomo masih sepi. Berbeda dengan kondisi sekarang yang terlihat sangat ramai.
"Masih banyak hutannya, gelap banget kalau malam jalanannya," tutur A Chong.
A Chong enggan mengutak-atik proses pembuatan teh susu dan kopi yang sudah diwariskan sejak dulu. Dan memang, inilah salah satu daya tarik dari minuman ini. Pria berumur lebih dari 60 tahun ini langsung memperagakannya.
Pertama-tama, sebuah gelas berukuran kecil beserta tatakannya dipersiapkan lebih dulu. Bubuk teh kemudian dimasukan ke dalam wadah untuk direbus.
Gelas tadi, kemudian disiram dengan air mendidih. Menariknya, air panas itu langsung dibuang kembali. Cara ini dilakukan A Chong berulang-ulang. Alhasil, air nya pun berceceran dimana-mana.
"Ini sengaja supaya teh atau kopi tetap terjaga suhunya. Air panas ini biar gelasnya panas terus, jadi nggak cepat dingin," jelas A Chong.
Bubuk teh yang sudah direbus tadi kemudian diangkat dengan menggunakan saringan. Bubuk teh tersebut akhirnya diseduh ke dalam gelas. Tidak usah penuh, karena setengah dari gelas itu akan diisi oleh susu kental manis.
Cara yang sama juga dilakukan untuk pembuatan kopi.
"Kalau pelanggan mau pekat rasa teh nya, tinggal kita kurangkan susu nya," imbuh A Chong.
Rasanya, hmm jangan ditanya. Luar biasa nikmat. Apa lagi jika kita juga memesan roti bakar srikaya khas toko ini. Harganya pun tergolong sangat murah. Roti bakar cuma Rp 3.500, sedangkan segelas minuman Rp 6.000.
Soal jenis kopi atau teh yang disajikan, A Chong enggan membocorkan. "Yang pasti ini teh asli perkebunan kami," bisiknya.
Sayangnya, sedikit demi sedikit, pelanggan minuman ini mulai berkurang jauh. Padahal dulu, tempat ini sangat ramai. "Sudah banyak saingannya sekarang," keluh A Chong.
Meski mulai redup, ia akan tetap menjalankan bisnis ini. Bisnis warisan kakeknya.
(mok/mok)











































