Memborong Alquran Madinah Agar Berkah

Laporan dari Arab Saudi

Memborong Alquran Madinah Agar Berkah

- detikNews
Minggu, 28 Nov 2010 03:37 WIB
Memborong Alquran Madinah Agar Berkah
Madinah - Tiada hadiah yang lebih berkah dan bermakna selain Alquran. Alasan itulah antara lain yang menggerakkan jamaah haji untuk memborong Alquran di 'Percetakaan Mushaf Alquran Kompleks Malik Fahd'.

Jamaah haji Indonesia, Sabtu (27/11/2010), memadati percetakan kitab mulia itu yang terletak di pinggiran kota Madinah.

Percetakan ini dibangun di atas lahan seluas 25 hektar pada tahun 1984 atau 1405H. Salah satu tujuan dibangunnya adalah untuk menjaga kemurnian kitab suci Alquran.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan pekerja berjumlah 1.700 orang, setiap tahunnya, percetakan mampu mencetak 10 juta Alquran dalam bentuk cetakan, CD, dan kaset. Dari berdiri hingga sekarang, jumlah kitab suci ini bila ditumpuk kira-kira mencapai 250 ribu meter kubik.

Selain mencetak Alquran, lembaga ini juga mengatur distribusi Alquran di seluruh dunia termasuk membagikannya ke masjid-masjid ataupun lembaga pendidikan.

"Yang sudah dicetak dan dibagikan kepada jamaah ada 30 juta Alquran," kata Direktur Publikasi 'Kompleks Malik Fahd' Syeikh Sholeh Husaini.

Mengunjungi 'Percetakaan Mushaf Alquran Kompleks Malik Fahd', jamaah akan melihat proses penjilidan Alquran serta berbagai jenis kitab suci umat Islam itu dalam berbagai ukuran dan bahasa. Untuk terjemahan, ada 50 bahasa, yakni 24 terjemahan bahasa Asia, 12 Eropa dan 14 Afrika.
Β 
Selain melihat-lihat proses percetakan, jamaah juga bisa membeli langsung Alquran di sini. Kitab suci produksi percetakan ini ada tulisan dalam bahasa Arab yang bunyinya 'Mushaf Almadinatul Munawarah' serta stempel khusus.

Anom Suryonindito, jamaah dari Jakarta memborong 18 Alquran di percetakan yang dibangun Raja Fahad ini. Alquran tersebut akan dibagi-bagikan kepada kerabat atau sahabat dekat.

"Ini buat oleh-oleh. Terjemahannya atau tafsirnya mungkin sedikit beda dengan Alquran yang di Indonesia. Katanya terjemahan di Indonesia itu dibuat tahun 70 an," jelas Anom.

Alasan lainnya, Anom ingin memberikan hadiah yang membawa berkah untuk keluarga atau sahabat yang belum pernah ke tanah suci.

"Kalau makanan kan bisa habis, kalau Alquran kan tidak dan lebih berkah dan dapat pahala," kata Anom.

Sementara jamaah asal Surabaya, Ratu Sri Hastutie, yang juga membeli Alquran di percetakan Madinah ini mengagumi tulisan dan cetakan kitab mulia tersebut.

"Pastinya menyenangkan membaca Alquran yang cetakannya begini indah, saya ingin sumbangkan untuk anak yatim," jelas Ratu.

Sayangnya jamaah perempuan tidak diperbolehkan masuk ke kompleks penjilidan Alquran. Perempuan hanya boleh masuk ke tempat show room dan penjualan Alquran. Saat ditanyakan mengapa perempuan tidak boleh masuk, si petugas hanya menjawab mungkin tahun depan sudah diperbolehkan.

(iy/mok)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads