“Saat ini kami telah membentuk suatu susunan kelembagaan di bawah Walikota Yogyakarta dalam menangani Kali Code terkait antisipasi dan perbaikan sungai," ujar Wakil Walikota Yogyakarta, Haryadi, saat memberikan keterangannya kepada wartawan di Media Center, Jl Kenari, Yogyakarta, Jumat (26/11/2010).
Haryadi juga menambahkan, Kali Code untuk saat ini memiliki ancaman bahaya yang bersifat primer dan sekunder.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Sedangkan bahaya sekundernya itu berupa tertutupnya saluran drainase warga yang menuju kali code dan penambangan kali code yang tidak terkontrol,” katanya.
Dari hasil pendataan pemerintah Kota Yogyakarta, terdapat 8 kecamatan, 14 kelurahan, dan 66 RW yang menjadi potensi bahaya aliran lahar yang melewati Kali Code.
Tidak berbeda dengan wilayah di lereng Merapi, demi mengantisipasi aliran lahar, Pemkot Yogyakarta sudah memiliki jalur evakuasi tersendiri bagi seluruh warga yang tinggal di bantaran sungai Code.
“Kami pun sudah memiliki sistem dan jalur evakuasi tersendiri bagi warga Code yang berada di berbagai titik yang sudah kami tentukan," ungkap Haryadi.
Sampai saat ini, Pemkot Yogyakarta bersama warga bantaran sudah melakukan langkah antisipasi dalam mengurangi sedimentasi Kali Code.
“Langkah yang sudah dilakukan bersama warga Code di antaranya melaksanakan kerja bakti untuk meningkatkan tanggul dan mengoperasikan backhoe untuk mengeruk endapan sedimen yang ada," kata Haryadi.
Peningkatan tanggul di wilayah Kali Code ini dinilai sangat efektif, terbukti sampai sekarang Kali Code masih bisa dinyatakan aman dari bahaya primer erupsi merapi.
Di sisi lain, terkait adanya ancaman bahaya aliran lahar di Kali Code sebagai dampak erupsi Merapi, Haryadi juga mengatakan, secara total tidak ada gejolak harga yang signifikan.
“Secara mayoritas, di wilayah tersebut tidak ada kenaikan harga akibat kekurangan pasokan barang pokok dan tidak ada perdagangan yang mengalami gangguan saat ini," ujarnya.
(lrn/lrn)











































