"Saya baru tahu kalau dia makai (ganja) kemarin, dibel (telepon) sama polisi. Dia memang merokok, tapi saya nggak tahu kalau dia makai itu. Wong di rumah juga anaknya biasa saja," ujar ayah Farel, Bagyo, saat dihubungi detikcom, Jumat (26/11/2010).
Menurut Bagyo, Farel mengaku mendapatkan ganja dari seseorang yang mengaku alumni Universitas Bung Karno. Namun setelah diselidiki, ternyata tidak ada yang kenal dengan si pemberi ganja itu. "Berarti dia itu ngaku-ngaku alumni sama anak saya," ucap dia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dalam bulan-bulan ini saya kayak hancur. Saya malu. Kalau adik dia yang paling kecil, yang umurnya 3 tahun menanyakan di mana dia, rasanya hati saya ini bagaimana gitu, Mbak," kata Bagyo dengan suara bergetar.
Jujur, Bagyo merasa marah dan kesal dengan ulah Farel. Dia harus bolak-balik ke kantor polisi dan menanggung malu. Tapi namanya anak tetaplah anak, darah daging Bagyo sendiri. Dia tidak pernah kuasa membiarkan Farel sendiri menghadapi masalahnya.
"Kalau saya inginnya diselesaikan secara kekeluargaan biar anak saya bisa segera kuliah lagi. Tapi kan harus diproses juga. Ada pengacara buat anak saya, alumnus UBK juga yang sekarang kerja di LBH," tutup Bagyo.
Satuan Narkoba Polres Jakarta Pusat melakukan tes urine kepada mahasiswa UBK Farel Restu, mahasiswa yang pernah tertembak saat demo setahun SBY ini. Dari hasil tes tersebut, Farel positif menggunakan ganja dan Farel mengaku menghisap ganja pada pagi hari sebelum berangkat kuliah. Farel ditangkap pada Kamis (25/11) kemarin pukul 16.30 WIB. Saat itu polisi tengah menggelar razia di bus Kopaja 502 Kampung Melayu-Tanah Abang yang tengah melintas di di Jalan Cik Ditiro, Menteng, Jakarta Pusat.
(vit/fay)










































