"Saya rasa kita harus berani ya. Bisa dalam perjalanan sekarang (diputus kontrak)," kata Kepala Pusat Kesehatan Haji Wan Alkadri usai meninjau dua perusahaan bermasalah, Haedari dan Fatani, di Madinah, Kamis (25/11/2010).
Dalam penyelenggaraan haji gelombang I, Haedari mendapat teguran karena terlambat mengirimkan katering untuk jamaah. Sedangkan Fatani mendapat teguran karena menyajikan makanan basi sehingga menyebabkan 100 jamaah menderita diare.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepada perusahaan Haedari, Wan menanyakan apa yang sudah dilakukan perusahaan katering agar kasus terlambat pengiriman makanan tidak terulang. Penanggung jawab dapur Haedari, Kusnadi, menyatakan pihaknya sudah membeli satu mobil cadangan untuk mengantisipasi ban mobil kempes sehingga pengiriman telat pada 25 Oktober lalu.
"Kami sekarang sudah punya 4 mobil, satu baru dibeli. Mudah-udahan tidak ada keterlambatan lagi pada gelombang II," kata Kusnadi. Haedari mempekerjakan 90 karyawan yang keseluruhannya berasal dari Indonesia.
Sementara kepada penanggungjawab Fatani ditanyakan tentang upaya yang dilakukan untuk tidak mengulang kasus diare. Penanggungjawab Fatani menyatakan telah melakukan training kepada karyawannya. Saat gelombang I, katering yang disediakan Fatani basi karena pemanas (hiting) tidak dicolokkan saat makanan sudah ada di hotel.
Wan mengungkapkan setelah kasus gelombang I, katering yang bermasalah telah dilakukan pengawasan dan pembinaan. Dari pembinaan itu sudah diketahui titik-titik lemah penyediaan katering yakni pada penyimpanan, pengepakan, distribusi, dan pemanasan makanan setelah tiba di pemondokan jamaah.
"Mudah-mudahan dengan pengawasan yang ketat kasus di gelombang I tidak terjadi lagi," kata Wan.
(iy/rdf)











































