SBY: Insiden Militer di Korea Bisa Memicu Konflik Lebih Besar

SBY: Insiden Militer di Korea Bisa Memicu Konflik Lebih Besar

- detikNews
Kamis, 25 Nov 2010 15:32 WIB
SBY: Insiden Militer di Korea Bisa Memicu Konflik Lebih Besar
Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) merasa prihatin atas konflik antara Korea Utara dan Korea Selatan. Konflik dua negara bertetangga di Semenanjung Korea yang berakhir dengan insiden militer tersebut bisa menyebabkan konflik meluas ke negara tetangga. 

"Saya harus katakan situasi itu membahayakan dan kalau berlanjut bisa memicu konflik lebih besar, dan kalau meluas bisa melibatkan negara-negara lain di Semenanjung Korea," ujar SBY saat memberikan sambutan di rapat paripurna kabinet di Istana Negara, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Kamis (25/11/2010).

SBY juga menyayangkan insiden militer tersebut karena telah menyebabkan warga sipil tewas sia-sia. "Tembakan serangan militer artileri yang bisa memicu konflik lebih besar itu tidak tepat dan tidak dibenarkan," kecam SBY.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Indonesia pun berharap PBB bisa meredam konflik akibat sengketa perbatasan tersebut akan tidak berlarut-larut.

"Menghadapi situasi yang tidak menentu ini, dunia terutama PBB termasuk negara kunci (six parties talk) bisa mencegah terjadinya konflik lebih luas. Bahkan mudah-mudahan tidak terjadi peperangan baru di Semenanjung Korea itu," harap SBY.

Seperti diketahui, Korea Selatan dan Korea Utara saling tuding siapa terlebih dahulu menembakkan senjata ke wilayahnya masing-masing. Keadaan kedua negara ini makin tegang.

Sementara Korut mengatakan Korsel yang memulai inisiatif untuk menembak terlebih dahulu. Korut membalas dengan serangan setelah memberikan beberapa peringatan.

Korut menembakkan sekitar 200 peluru artileri ke Pulau Yeonpyeong di wilayah Korsel. Ini adalah serangan terburuk sejak kedua negara bertetangga ini melakukan gencatan senjata yang mengakhiri Perang Korea pada 1953.

Korut mengancam akan melakukan serangan lagi bila Korsel memprovokasi dengan melakukan latihan perang bersama AS di Laut Kuning pada 28 November.

(her/nrl)


Berita Terkait