Karena kondisi itu, pemantauan pun terpaksa dilakukan secara manual atau mata telanjang. "Untuk radio komunikasi belum bisa kami pastikan kerusakannya karena hingga Kamis ini listrik belum menyala. Kami sekarang melakukan pemantauan Merapi hanya lewat visual saja," kata petugas Pos Ngepos Triyono.
Hal itu dikatakan Triyono kepada detikcom, Kamis (25/11/2010) di Pos Ngepos. Peralatan yang rusak antara lain seismograf untuk mencatat gempa, power supply, dan jaringan listrik.
Triyono mengatakan, kondisi ini membuat pemantauan Merapi tidak bisa dilakukan secara maksimal. Hal ini karena Gunung Merapi seringkali tertutup kabut tebal dan hanya pada waktu-waktu tertentu saja, Merapi bisa dilihat dengan jelas. Padahal hingga kini aktivitas Merapi masih tinggi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Triyono menjekaskan dirinya bertugas di Pos Ngepos untuk menggantikan petugas lain yaitu Retiyo, karena sedang cuti. Sebelumnya, Triyono bertugas di Pos Pengamatan Kaliurang, Yogyakarta.
Pos Ngepos ini sebetulnya baru saja beroperasi pada Sabtu 20 November 2010 setelah dipindah ke Balai Desa Tambakrejo, Kabupaten Sleman paskaletusan dahsyat tanggal 4 dan 5 November. Namun baru empat hari beroperasi petir menyambar jaringan listrik sehingga merusak peralatan yang ada.
Diduga ada konsleting jaringan listrik di sekitar Pos Ngepos. Triyono mengatakan jika turun hujan listrik juga nge-ground sehingga petugas tidak berani lewat halaman Pos Ngepos.
Triyono menambahkan Pos Ngepos tetap beroperasi melakukan pemantauan aktivitas Gunung Merapi. Namun karena tak ada listrik pemantauan yang dilakukan pun
sebatas visual menggunakan teropong dari atas menara.
"Adapun laporan ke Kantor BPPTK Yogyakarta kita sampaikan lewat handphone. Ini saya juga masih nitip nge-chas Hp di rumah warga. Semoga saja listrik segera menyala sehingga fungsi pengamatan Pos Ngepos bisa optimal," kata Triyono. (ken/ken)











































