Cuaca Madinah Ekstrem, Jamaah Diimbau Waspadai Penyakit ISPA

Laporan dari Arab Saudi

Cuaca Madinah Ekstrem, Jamaah Diimbau Waspadai Penyakit ISPA

- detikNews
Kamis, 25 Nov 2010 02:39 WIB
Cuaca Madinah Ekstrem, Jamaah Diimbau Waspadai Penyakit ISPA
Makkah - Jamaah haji Indonesia yang akan tiba di Madinah, Kamis (25/11/2010), akan menghadapi cuaca ekstrem. Madinah saat ini dingin dengan suhu terendah 16 derajat celcius dan tertinggi 26 derajat celcius.

Sementara kelembaban terendah 12 dan tertinggi 17. Dengan cuaca tersebut, jamaah rentan terserang penyakit infeksi saluran pernafasan (ISPA).

Kepala Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) dr Subagyo menyatakan, saat ini pihaknya merawat sejumlah jamaah Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) dengan penyakit terbanyak adalah ISPA. Subagyo mengingatkan jamaah reguler yang akan segera memasuki Madinah agar bersiap-siap menghadapi perubahan cuaca yang mengejutkan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kondisi Madinah sekarang memang mengejutkan, dingin, kering. Siang agak panas juga, tapi tiba-tiba bisa sangat menyengat. Itu yang menyebabkan gangguan kesehatan terutama saluran pernafasan," kata Subagyo di BPIH Madinah, Rabu (24/11/2010).

Indikasi banyaknya jamaah terserang ISPA bisa dilihat di Masjid Nabawi. Bila pada gelombang I saat jamaah haji belum menuju Makkah, sangat sedikit terdengar suara batuk di masjid mulia tersebut. Tapi saat ini jamaah seperti berlomba batuk.

Untuk menghindari ISPA, jamaah diimbau menjaga kesehatan dengan mengenakan masker lembab dan banyak minum air. Sementara yang sudah kena ISPA harus banyak-banyak minum air hangat dan memeriksakan diri ke BPHI.

"Minum air hangat yang banyak sehingga lendir di dalam saluran nafas bisa cair agar dahak bisa keluar," imbau dokter berkaca mata tersebut.

BPHI sudah siap melayani jamaah gelombang II yang akan masuk Madinah. Sebanyak 90 tenaga kesehatan diinstruksikan agar lebih sigap memberikan pelayanan kesehatan. Mengenai obat-obatan dipastikan masih mencukupi. Pengadaan obat antibiotik juga sudah diperbanyak karena pada gelombang II ini, jamaah yang menjadi pasien risiko tinggi (risti) kemungkinan besar juga mengalami komplikasi.

Subagyo menjelaskan BPHI memiliki kapasitas menampung 50 pasien rawat inap. Menghadapi kemungkinan jumlah pasien rawat inap meningkat, BPHI akan mengurus jamaah secara sigap.

"Kalau jamaah memungkinkan kembali ke rombongan, kita kembalikan ke rombongan, yang harus dirujuk akan segera kita rujuk ke RS King Fahad, yang kondisinya masih kuat bisa dipulangkan akan ditanazulkan (pulang dini)," kata dr Subagyo.

(iy/irw)


Berita Terkait