"Kita tidak tahu kapan akan meletus. Dilihat dari instrumentalnya ini sangat jelas kemungkinan letusan terjadi itu ada," kata Kepala Badan Geologi ESDM Dr R Sukhyar, saat berbincang dengan detikcom, Rabu (24/11/2010).
Perbedaan dengan Gunung Merapi adalah saat letusan terjadi Bromo tidak mengeluarkan awan panas. Sama halnya dengan Merapi, Bromo juga memuntahkan material debu vulkanik halus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara vulkanologi, Sukhyar menjelaskan, aktivitas Bromo termasuk pembentukan anak Gunung Bromo yang berada di sekitar kaldera. Siklus aktivitas tersebut tercatat setiap 1-6 tahun sekali terjadi.
"Siklus baru ditandai dengan letusan yang sangat kerap dengan frekuensi sering," kata Sukhyar.
"Kalau dia (Bromo) ingin membangun cepat maka letusannya kerap terjadi dan berdampak hanya di kaldera saja," imbuhya.
Meski tingkat bahaya belum menampakkan sebesar Merapi, Sukhyar tetap mengimbau masyarakat tetap waspada dengan aktivitas Bromo.
"Kesiap-siagaan diperlukan, jangan sampai masyarakat tidak siap," tegas Sukhyar.
Jarak aman Bromo di luar 3 kilometer. "Kira-kira mulai bibir kaldera atau tepi lautan pasir," tutup Sukhyar.
(ahy/nrl)











































