Saat ini, Reka harus menjalani perawatan di ruang Unit Gawat Darurat (UGD) Rumah Sakit (RS) Koja, Jakarta Utara sejak Selasa (23/11/20100) pukul 12.00 WIB tadi.
"Makan saja sulit itu juga harus sedikit dibantu saya," kata ibunda Reka, Maria, saat dihubungi wartawan di ruang UGD RS Koja, Jakarta Utara, Senin (23/11/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebagai ibu saya cemas kondisi anak saya. Lalu saya bawa Puskesmas Koja dan dari hasil periksa, Reka mengalami gizi buruk marasmus, dengan penyakit bawaan infeksi pernafasan," terangnya.
Usai mendapat hasil pemeriksaan Reka, Puskesmas menyarankan Maria untuk merujuk Reka ke RS Koja agar mendapatkan perawatan lebih baik. Sementara itu, Ricardo Hutahaean tokoh masyarakat Kampung Beting Remaja, Tugu Utara, yang juga tetangga korban mengatakan, keluarga Roy (ayah Reka) selama ini hidup di bawah garis kemiskinan.
"Mereka hidup berpindah-pindah dari satu kontakan ke kontrakan lainnya. Dikampung Beting Remaja, Roy tinggal selama 2 tahun di rumah petak seluas 3 x 2 meter," kata Ricardo.
Ricardo melanjutkan, pasangan Roy dan Maria dikenal sebagai keluarga yang hidup berpindah-pindah tempat. Bahkan Roy dan Maria hingga saat ini tidak memiliki KTP dan KK DKI Jakarta
"Terakhir KTP yang dimilikinya adalah KTP Kalimantan dan itu udah lama hilang dan tidak diperbaharui lagi," tuturnya.
Dari informasi didapat Ricardo, selama ini Roy bekerja serabutan, terakhir dirinya bekerja sebagai pedagang sosis bakar atau goreng keliling, dengan perhasilan sehari sebesar Rp 30 ribu.
"Dengan penghasilan yang terbilang minim tersebut Roy pun harus mencukupi kebutuhan istri dan ke tiga anaknya," jelas Ricardo.
(fiq/nwk)










































