Seperti dilansir Reuters, Selasa (23/11/2010), tentara yang tewas ini termasuk dari 4 tentara yang sebelumnya luka parah. Kementerian Pertahanan Korsel menyatakan ada 17 tentara yang terluka dan 3 warga sipil yang juga terluka.
Menteri Pertahanan Korea Selatan, Lee Hong-ki, langsung mengatakan bahwa serangan artileri Korut adalah suatu kesengajaan. Mereka menuding Korut telah melanggar gencatan senjata sejak akhir Perang Korea 1953.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Korsel dan Korut sebenarnya tidak pernah benar-benar berhenti perang. Perang Korea berakhir pada 1953 hanya dengan sebuah gencatan senjata. Kini, Korsel merasa gencatan senjata itu sudah dilanggar.
"Ini jelas-jelas pelanggaran terhadap gencatan senjata," imbuh Lee.
Untungnya Korsel mendapatkan dukungan sekutunya yaitu Amerika Serikat. Gedung Putih langsung mengatakan akan membela Korsel.
"AS secara tegas berkomitmen untuk membela sekutu kami, Korea Selatan, dan untuk menjaga perdamaian dan stabilitas regional," demikian pernyataan Gedung Putih.
Sebelumnya, Korut menembakkan sekitar 200 artileri ke Pulau Yeonpyeong di wilayah Korsel. Ini adalah serangan terburuk sejak kedua negara bertetangga ini melakukan gencatan senjata yang mengakhiri Perang Korea pada 1953.
Serangan ini terjadi seiring kedatangan utusan AS ke kawasan itu menyusul sikap Korut yang melanjutkan pengayaan uranium. AS khawatir Korut akan membuat bom atom.
Pulau Yeonpyeong hanya berjarak 3 km dari perbatasan Korut. Sekitar 70 rumah terbakar di Pulau Yeonpyeong akibat dibombardir Korut. Sementara para warga diungsikan ke dalam bunker atau keluar pulau dengan perahu nelayan.
Aksi bombardir Korut dimulai sekitar pukul 15.00 waktu setempat atau pukul 13.00 WIB. Korsel langsung membalas serangan itu. Kedua pihak saling adu artileri selama satu jam, sebelum akhirnya berhenti.
(fay/fay)











































