Permintaan tersebut disampaikannya langsung kepada Kepala BNP2TKI, Jumhur Hidayat, di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (23/11/2010). Ketika itu Jumhur baru saja keluar dari ruang Komisi IX DPR usai rapat mengenai perlindungan terhadap TKI.
"Nama anak saya Estilawati, sekarang umurnya 26 tahun. Majikannya di Mekkah bernama Abdullah dan Al Isri," ujar Ade di ruang rapat Komisi IX DPR, Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kali terakhir pembicaraan telepon terjadi pada 2002. Ade waktu itu bertanya mengenai nilai uang yang sudah dikirim putrinya selama dua tahun bekerja di Arab Saudi.
"Katanya sudah dikirim semua oleh majikannya. Tapi yang cuma hasil kerja empat bulan pertama saja yang sudah saya terima, jumlahnya Rp 5,3 juta. Lalu saya bilang 'majikan kamu bohong', setelah itu Esti tidak bisa dihubungi lagi," tutur Ade.
Untuk mendapatkan kabar, Ade sudah berulang kali menghubungi PT Sabika Arabindo yang memberangkatkan putrinya ke Arab Saudi. "Tapi saya malah dimarahi karena tanya-tanya terus," tutur wanita berkerudung warna ungu itu.
Menanggapi pengaduan langsung tersebut, Jumhur Hidayat berjanji akan membantu mencari informasi mengenai kebedaraan Estilawati. Untuk itu dia meminta data-data mengenai alamat majikan Esti di Mekkah dan PJKTI yang memberangkatkan Esti.
"Nanti ganti saya yang marahi mereka," tegas Jumhur.
Ade datang ke Gedung DPR diantar oleh beberapa orang perangkat desa Jayanegara. Mereka diminta datang oleh politisi PDIP, Rieke Dyah Pitaloka, untuk berbicara langsung dalam rapat dengar pendapat antara Komisi IX DPR dengan BNP2TKI.
(her/lh)











































