"Kita ikuti saja prosesnya. Kalau ada permintaan BK dinonaktifkan, ya kita ikuti saja. Kita tidak mau menentang keputusan karena itu keputusan kita bersama, biarkan mereka memferifikasi kemana saja perginya selama di Turki," ujar Wakil Ketum PD, Max Sopacua, kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (21/11/2010)
Hal ini disampaikan Max menanggapi laporan 10 LSM atas kepergian 8 anggota BK DPR ke Turki. Delapan anggota BK DPR yang diduga pelesiran ke Turki di sela kunjungan studi banding di Yunani, terlebih dahulu harus dinonaktifkan dari BK DPR agar bisa diperiksa oleh BK DPR.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sejak awal kita sudah juga mengingatkan alangkah janggalnya kalau soal etika saja ke Yunani, kemudian ada indikasi penerbangan mereka lewat Turki," keluh Max.
Oleh karena itu, Max berharap agar anggota BK DPR yang ikut dalam rombongan studi banding tersebut dapat memberikan klarifikasinya. Sebab hal tersebut kian merusak citra DPR.
"Biarkan mereka menyampaikan itu kepada Badan Kehormatan DPR mengapa mereka mampir ke Turki," tandasnya.
Ada dua politisi PD yang turut dalam rombongan studi banding BK DPR ke Yunani. Mereka adalah Mayjen (Purn) Salim Mengga dan Darizal Basir yang masing-masing duduk di Komisi I dan XI DPR-RI.
Pada kesempatan terpisah, anggota rombongan BK DPR sudah menegaskan bahwa keperluan di Turki hanyalah untuk transit pesawat terbang. Tak benar bahwa selama di Turki mereka berwisata apalagi mencari hiburan tari perut.
"Tepatnya malam sampai Turki, ada yang menyebut hiburan, kalau hiburan itu mengunjungi sejarah. Tidak benar itu tari perut, coba Anda lihat yang berangkat sudah sepuh-sepuh, jangan fitnah!" ujar anggota BK DPR, Chairuman Harahap.
(van/lh)











































