Pendirian pusat pelatihan ini hasil kerja sama Indonesia-Australia untuk meningkatkan kapasitas kemampuan operasional para penegak hukum dalam menangani segala kejahatan lintas negara. Dalam hal ini perang melawan aksi terorisme.
"Ketika itu belum ada konsep negara kawasan dalam menangani terorisme, ini yang mendorong JCLEC lahir. Pendiriannya semata-mata buat kepentingan keselamatan dan kemanusiaan," kata Direktur Eksekutif JCLEC, Brigjen Boy Salamudin, di JCLEC, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (20/11/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tadinya memang mau kita namakan Semarang, tapi Jakarta sebagai ibu kota negara lebih mendunia dan sesuai untuk kepentingan regional. Kita namakan Jakarta dan itu tidak masalah," jelasnya.
Apa saja keistimewaan pusat pelatihan bertaraf internasional ini?
Menilik bangunan fisik, kita sudah bisa membaca jika pusat pelatihan ini memang punya kualitas berbeda. Saat masuk, kita sudah merasa berada di lingkungan pendidikan luar negeri bergaya Eropa.
Sebuah pintu pagar cukup tinggi siap menyambut pengunjung yang datang. Dua satpam khusus akan memeriksa keperluan dan kepentingan anda. Meski berada di areal Akademi Kepolisian (Akpol) yang pengamanannya sudah cukup ketat, pengunjung kembali akan diperiksa kembali saat hendak masuk.
Masuk lebih dalam, di sekeliling, pemandangan bukit dan pohon-pohon rindang berdiri tegak. Suasana yang rindang menjadikan setiap pengunjung yang masuk betah. Belum lagi taman yang dihias dengan bermacam bunga dan pohon-pohon berukuran sedang.
Sedemikian asri dan tertata dengan baik. Tetapi bila teliti, kita akan melihat kamera pengintai, pagar hidroulis dan kawat berduri mengelilingi areal JCLEC layaknya sebuah penjara.
Pengamanan cukup ketat ini hanya ada di areal JCLEC. Kontras dengan lokasi bangunan lainnya di Akpol.
"Semua kawat beraliran listrik. Kita memang menggunakan sistem keamanan standar internasional. Ekslusif memang, karena saat berdiri lokasi ini bisa menjadi soft target bagi teroris," ungkapnya.
Berdiri di lahan seluas 6 ha, JCLEC memiliki segala macam fasilitas cukup mewah. Mulai dari 62 kamar sekelas hotel berbintang, 12 vila ekslusif, hingga cafe dan ruang makan yang luas.
Cukup? Tentu saja belum.
JCLEC juga dilengkapi pusat kebugaran dan kolam renang. Selain itu, ada beberapa ruang komputer yang lengkap dengan perlengkapan canggih.
Secara struktur organisasi, JCLEC berada di bawah Kepala Lembaga Pendidikan Kepolisian. Untuk urusan keseharian, tugas Direktur Eksekutif adalah untuk mengelola operasional dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan JCLEC.
Boy mengaku sudah ada 46 negara yang ikut menjalin kerjasama dengan JCLEC. Jejaring ini dibangun terus menerus untuk meningkatkan kiprah JCLEC dalam penanganan masalah keamanan internasional.
"Peserta kita sudah ada 8.049 orang dengan dosen sebanyak 1.924 dari dalam maupun luar negeri. Sedangkan sejak 2004 kita sudah menyelenggarakan 348 angkatan kursus," tukas Boy.
Ada empat materi yang umumnya diberikan di JCLEC, yakni intelijen, manajemen, investigasi, dan forensik. Namun, investigasi dan manajemen lebih dominan ditekankan dalam setiap materi kursus bagi para peserta.
Kurikulum di JCLEC juga sangat beragam, mulai dari Manajemen Insiden Paska Ledakan, Pengenalan dan Identifikasi Senjata Api, Program Anti-Teror dan Penuntutan Hukum, Kepemimpinan dalam intelijen kriminal, Program Kepemimpinan Eksekutif Regional, Manajemen Internasional pada Kejahatan Serius, Anti Pencucian Uang dan puluhan program pelatihan unggulan lainnya.
Setiap kursus digelar, JCLEC membiayai seluruh akomodasi dan transport peserta. Butuh 20 ribu dollar Australia untuk setiap satu minggu kursus. Pada tahap pembangunan awal 5 tahun Pemerintah Australia menggelontorkan 36 juta dollar Australia untuk mendesain dan membangun JCLEC. Sementara setiap tahunnya Australia mengeluarkan 7 juta dollar Australia.
Tidak semua orang bisa menjadi peserta JCLEC, hanya orang-orang yang diundang secara resmi saja yang bisa mendapatkan pelatihan khusus di JCLEC.
(ape/lh)