Tak Terurus, Warga Magelang Non Pengungsi Protes

Bencana Merapi

Tak Terurus, Warga Magelang Non Pengungsi Protes

- detikNews
Sabtu, 20 Nov 2010 23:28 WIB
Tak Terurus, Warga Magelang Non Pengungsi Protes
Magelang - Banyak warga non pengungsi yang tinggal di sekitar Gunung Merapi menderita kerugian akibat sawah dan ladang mereka terkena abu vulkanik. Namun, pemerintah seolah tidak memperhatikan nasib mereka.

Sebagai contoh adalah para penduduk di Kecamatan Sawangan, Magelang, Jawa Tengah (Jateng). Perekonomian di wilayah tersebut lumpuh total sejak terjadinya erupsi Merapi pertamakali pada 26 Oktober lalu.

Merasa tidak diperhatikan pemerintah, belasan perangkat desa di Sawangan mengirim notaΒ  protes. Protes itu dituangkan ke dalam surat setebal empat halaman yang ditandatangani 11 kadus, 3 kades dan camat Sawangan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya berharap surat protes kami bisa disampaikan ke pemerintah dan BNPB agar diperhatikan," kata Kepala Desa Gantang, Sawangan, Muhyat, kepada detikcom, Sabtu (21/11/2010).

Menurut Muhyat, penduduk di desanya, yang hanya mengandalkan hidup dari pertanian, kini mulai kehabisan cadangan makanan. Stok bantuan memang melimpah, namun barang tersebut hanya boleh untuk pengungsi.

"Bayangkan saja, warga saya sampai-sampai makan buah nangka mentah yang diambil di pohon yang terkena abu vulkanik dipotong-potong dicampur dengan pepaya? Saya sedih melihat kenyataan seperti itu," lanjut Muhyat sambil menangis.

Di Gantang, terdapat 400 pengungsi yang berasal dari Desa Krinjing, Babadan, Srumbung bahkan Boyolali. Hampir seluruh kebutuhan pengungsi tercukupi dan bantuan melimpah.

"Seluruh bantuan itu katanya untuk pengungsi. Kalau ada audit nanti saya bisa disalahkan. Padahal, sekarang warga saya kelaparan. Bahkan mereka sudah menjurus ke anarkis karena saya dianggap tidak bisa menjadi pemimpin," ungkap Muhyat.

Kades Gondowangi, Indra Budi Gunawan, mengatakan hal yang sama. Sedikitnya ada 500 pengungsi yang datang dari Desa Sengi, Kecamatan Dukun, yang sudah terpenuhi kebutuhan logistik mereka.

"Tiap hari bantuan dari berbagai donatur datang dan menumpuk di balai desa. Sekarang stok untuk pengungsi berlebih. Tapi warga saya justru tidak bisa menikmati bantuan itu," tegas Indra.

Warga di Desa Jati, juga bernasib sama. 60 Persen dari 3.329 warga desa tersebut terpaksa beralih makan ketela lantaran persedian beras mereka sudah habis. Sementara lahan kelapa yang biasa mereka ambil niranya sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi.

"Karena sebagian besar dari mereka adalah petani nira," tandas Kades setempat, Lilik Suyadi. (irw/irw)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads