Daryanti melahirkan anak keduanya pada hari Jumat (12/11/2010) di RSU Dr Sardjito Yogyakarta. Sejak erupsi besar hari Jumat 5 November 2010 bersama ratusan warga desa Harjobinangun Pakem, bersama anggota keluarganya ditampung di
posko pengungsi gedung Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri.
Bayi berjenis kelamin laki-laki dengan berat 3,2 kg dan tinggi 48 cm itu tampak sehat. Daryanti bersama anak perempuan pertama dan bayinya saat ini masih tinggal di salah satu ruang di posko kesehatan di gedung eks Purnabudaya itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, saat mengungsi bersama keluarga dan tetangganya, kondisi kehamilannya sudah mendekati waktu kelahiran. Namun apabila tidak ikut mengungsi justru akan merepotkan.
"Saat itu kami sekeluarga juga repot dan bingung, karena sudah hamil tua. Setelah lima hari tinggal di sini, saya merasa akan melahirkan. Oleh relawan kami kemudian dibawa ke Sardjito dan setelah melahirkan kami kembali ke barak
lagi," katanya.
Dia mengatakan, untuk sementara bersama anaknya memilih tinggal di tempat pengungsian hingga situasi aman. Suaminya yang bekerja sebagai penjaga malam di kawasan Pakemsari itu setiap hari menengok dan membersihkan rumah yang berada di kawasan Jl Kaliurang Km 15 Pakem.
"Untuk syukuran nanti saja. Nama juga sudah kami siapkan. Semua keluarga besar kami sudah tahu dan sudah ada yang menengok ke sini," katanya.
Untuk menunggui si buah hatinya, Daryanti tidur di atas sebuah velbed. Bayi yang baru saja dilahirkan tidur di velbed sebelahnya. Sedangkan putri sulungnya ikut menunggui juga tidur di dekatnya. Daryanti juga mengaku senang dengan pelayanan kesehatan yang dilakukan para relawan mahasiswa UGM.
Β
(bgs/gah)











































