"Dereng ngertos niku mas, enjih nopo? (Belum tau tuh mas, emang iya?)," ujar Purwadi dengan antusias di pos pengungsian Maguwoharjo, Jumat (15/11/2010).
Pengungsi dari Dusun Ngempring, Puwobinangun Pakem ini mengaku belum mendapat pemberitahuan apa-apa dari petugas di pengungsian. Padahal jika sudah ada pemberitahuan, Purwadi akan segera meninggalkan pos pengungsian untuk beranjak ke kampung halamannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ternyata tidak hanya Purwadi saja yang tidak mengetahui hal tersebut. Fajar, warga Candibinangun Pakem juga mengaku tidak mendapat info apa-apa.
"Kulo ket wau teng mriki Mas, nek onten pengumuman kulo nggih kudune mesti ngerti (Saya dari tadi di sini Mas. Kalau ada pengumuman saya pasti tahu)," terang pria berkumis ini.
Kondisi di pengungsian Maguwoharjo sendiri terpantau normal seperti hari-hari biasanya. Di sejumlah titik tampak sepi, namun itu merupakan pemandangan yang wajar karena pada siang hari kebanyakan pengungsi kembali untuk mengunjungi rumahnya.
Pemerintah melalui Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG) pagi ini telah mengumumkan bahwa radius bahaya di kawasan Merapi kembali dipersempit. Kabupaten Sleman yang pada penyempitan radius bahaya 'jilid 1' tak diturunkan jaraknya, kali ini mendapat kabar gembira dengan diturunkan jaraknya menjadi 10 km.
Untuk wilayah di sebelah barat Kali Boyong radius bahaya menjadi 10 km. Sementara yang berada di timur sungai tersebut sampai ke Kali Gendol, radius bahaya menjadi 15 km. Untuk wilayah Magelang dan Boyolali juga mengalami penurunan yakni masing-masing 5 kilometer dan 10 kilometer.
(fjr/nik)











































