"Saya mengapresiasi Gubernur NTB yang berani memutuskan tidak mengirim TKI ke Arab karena tidak menghormati buruh migran. Daripada di sana tidak dihormati, direndahkan, saya rasa lebih baik dipulangkan saja. Saya berharap keputusan Gubernur NTB itu jadi keputusan nasional," kata Direktur Eksekutif Migrant Care, Anis Hidayah, kepada detikcom, Jumat (19/9/2010).
Dia menyarankan pemerintah RI segera menelepon Raja Arab Saudi dan menyatakan protes terkait kasus ini. "Harus berani mengatakan pada mereka untuk menghentikan pengiriman dan memulangkan TKI kita," lanjut Anis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berapa jumlah TKI yang meninggal? "Sampai akhir Oktober ini ada 908 orang. Tapi bukan karena kekerasan saja, ada juga yang karena sakit," kata Anis.
Anis berharap pihak Saudi bekerja cepat untuk segera menangkap para pelaku kekerasan kepada TKI. Kepada Kedubes Arab Saudi di Jakarta, Anis menyampaikan telah memberi waktu hingga Minggu.
"Kalau sampai Minggu nggak ada juga yang dilakukan Pemerintah Saudi, kami akan menduduki Kedubes Arab Saudi. Siapapun yang punya kepedulian yang sama kita ajak untuk protes kepada Arab," ucap Anis.
Kasus penganiayaan terhadap TKI terjadi berturut-turut belakangan ini. Setelah Sumiati
yang digunting mulutnya, kemarin terungkap Kikim Komalasari yang disiksa, diperkosa,
hingga akhirnya tewas dan dibuang di tong sampah di Kota Abha, Arab Saudi. Sedangkan Niken Dewi Roro Mendut, yang nasibnya kini tidak diketahui. Terakhir saat mengontak adiknya, Anik Andriani Yusuf, pada 14 November, TKW asal Jember itu mengaku disiksa majikannya yang bermukim di Kota Hail, Saudi Arabia.
(vit/nrl)











































