Hiburan seni tradisional wayang kulit itu digelar di samping timur gedung yang dulu bernama Purnabudaya. Lakon wayang malam itu adalah Pandu Swarga dengan dalang Ki Ageng Siswantoro dari jurusan Pedalangan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
Seusai makan malam, para pengungsi yang sebagian besar warga Kecamatan Pakem itu menonton sambil duduk lesehan bergerombol di sekitar panggung dan taman. Namun ada pula yang duduk di kursi yang telah disediakan panitia. Sambil menonton mereka menikmati hidangan berupa kacang rebus, kue pukis, wedang jahe yang dibuat oleh mereka sendiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Iqbal, untuk pengungsi anak-anak pada hari Kamis siang sudah diajak
berekreasi di Kids Fun Park di Jalan Wonosari. Bersamaan dengan hari raya Idul Adha, Posko GER UGM mendapatkan bantuan 3 ekor sapi dan 23 kambing untuk disembelih bersama. Saat penyembelihan, banyak warga pengungsi yang ikut membantu.
"Mereka kita libatkan semuanya. Ternyata di antara mereka ada yang punya
kemampuan sebagai jagal, sehingga lebih memudahkan penyembelihan," katanya.
Sementara itu, anggota relawan lainnya, Wiwis menambahkan sampai saat ini posko GER terus mendistribusikan berbagai logistik dan nasi bungkus di berbagai lokasi. Dari empat kabupaten di sabuk Merapi yangtelah dijangkau diantaranya Muntilan, Srumbung, Ngluwar Magelang, Candisari Ngampel Boyolali, Banguntapan Bantul, Kalibawang Kulonprogo, Klaten dan Sleman serta beberapa posko mandiri.
Mengenai distrubusi nasi bungkus kata Wiwis, pihaknya hanya menjembatani antara donor dengan akseptor. Gelanggang mahasiswa hanya menjadi droping zone yang kemudian langsung distribusikan ke beberapa titik yang telah ditentukan sesuai permintaan.
"Rata-rata lebih dari 2 ribu nasi bungkus telah disalurkan ke akseptor. Saat ini antara pihak pendonor dan akseptor sudah ada yang berhubungan langsung sehingga lebih memudahkan pendistribusian," kata Wiwis.
(bgs/lrn)











































