Panjangnya antrian ini dikeluhkan Ketua Tim Pengawas Haji, Ahmad Zainuddin. Bersama istri dan tiga saudaranya, anggota Komisi VIII DPR itu harus mengantre cukup lama sebelum bisa menyantap menu makanan khas Indonesia tersebut.
"Namun yang terjadi adalah antrean yang sangat panjang di setiap maktab di Arafah. Mendapat jatah makan pagi sekitar jam 9 pagi waktu setempat, padahal jadwal makan pagi adalah jam 6 pagi. Makan siang jam 11 siang dan makan sore jam 16," keluh Ahmad, kepada wartawan, Kamis (18/11/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hanya ada nasi, sayur kuning, dan sambal yang dibagikan kepada jamaah. Mestinya penanggungjawab katering di maktab tersebut mengetahui standar jenis-jenis makanan yang harus disajikan ke jamaah, bukan asal memberi seperti itu. Masa tidak ada lauk tapi disajikan juga," keluh Ahmad lagi.
Mengetahui hal tersebut, Ahmad pun menghubungi dapur umum dan bertemu dengan penanggungjawab katering dan meminta supaya disediakan lauk. Tetapi lauk berupa ayam gulai yang ada di dapur namun tidak dibagikan ke jamaah.
"Disinyalir ada kesengajaan untuk tidak membagikan lauk di dapur untuk makan siang dan akan dibagikan pada makan sore. Kami mengimbau kepada Ketua kloter atau Petugas Haji untuk mengecek standar jenis-jenis makanan yang dihidangkan setiap kali makan sehingga masalah lauk seperti itu tidak perlu terjadi lagi," tandasnya.
Sebelumnya jatah makan dibagikan kepada jamaah haji dalam bentuk nasi dalam kemasan kotak. Memang tidak sampai terjadi antrian, tetapi ada banyak sekali jatah makan yang sudah dibayar lunas itu tidak dimakan sehingga menjadi mubazir.
Sejak era Menag Muhammad Maftuh Basuni, pembagian jatah makan siang diubah menjadi model prasmanan. Tujuannya jemaah haji dapat langsung sesuaikan porsi makan bagi masing-masing. Tetapi dampaknya adalah terjadi antrian untuk mendapatkan jatah makan.
(iy/lh)











































