Ada jamaah yang naik bus, ada yang berjalan kaki, sebagian duduk di kursi roda yang didorong, ada juga yang menggendong anak kecil, semua menuju Mina. Di Mina yang jaraknya sekitar 2 kilometer dari Terowongan King Fahad, jamaah akan melontar jumroh.
Kami, sejumlah wartawan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH), berjalan pelan menelusuri terowongan. Penat dan kantuk masih kami rasakan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Thawaf Ifadah cukup berat kami lakukan. Arus jamaah begitu padat meski saat itu pagi belum menjelang. Jam masih sekitar pukul 03.00 waktu Arab Saudi saat tiba kami di Masjidil Haram. Namun jamaah haji dari berbagai penjuru dunia sudah memenuhi Masjid Suci ini. Setelah mengelilingi Kabah tujuh kali, kami melakukan sai yaitu berjalan dari Bukit Shafa menuju Bukit Marwa.
Jarak bukit Shafa dengan Bukit Marwa sekitar 700 meter. Sa'i dilakukan sebanyak 7 kali, dengan demikian jarak yang ditempuh hampir 3 kilometer. Peluh tentu saja menetes membasahi baju ihrom yang kami kenakan. Ikut bersama kami seorang jamaah asal Syiria yang kehilangan penglihatannya. Si jamaah pria tersebut terpisah dari rombongannya sehingga akhirnya melakukan sa'i bersama-sama rombongan MCH yang dipimpin H Imam.
Dalam lelah kami teringat perjuangan Siti Hajar yang sendirian mondar-mandir antara bukit Shafa dan Marwa untuk mencari air bagi putranya, Ismail yang masih bayi. Siti Hajar meski perempuan dan sendirian di padang tandus itu tidak pernah putus asa berusaha dan yakin akan pertolongan Allah hingga akhirnya menemukan mata air zamzam. Air zamzam atau disebut air mulia itu hingga kini tidak pernah habis meski sudah direguk jutaan orang setiap tahunnya.
"Sa'i dilakukan tujuh kali mempunyai makna bahwa hari-hari kita yang berjumlah 7 hari harus diisi dengan penuh usaha dan kerja keras. Syariat Sa'i akan memunculkan sikap positif seperti kesungguhan, keikhlasan, sabar, tawakal dan disiplin," kata H Imam.
Selesai Sa'i, kami melakukan salat subuh dan berdoa di multazam, tempat mustajab untuk berdoa. Di multazam, tempat bertemunya berbagai bahasa kami memohon agar doa-doa kami dikabulkan.
Takbir menyambut Idul Adha sempat bergema di depan Ka'bah. Arab Saudi telah menetapkan Idul Adha jatuh pada 16 November, beda waktu dengan Indonesia yang baru akan merayakannya pada keesokan harinya, Rabu, 17 November.
Usai thawaf dan sa'i, kami kembali ke kantor Misi Haji Indonesia Makkah untuk beristirahat sejenak. Setelah itu, kami berjalan melewati terowongan untuk menuju Mina. Jalan kaki harus kami lakukan karena pada hari-hari puncak haji, jalanan di Makkah sangat macet.
Setelah sekitar 2 kilometer berjalan di bawah terik matahari, dengan muka ditutup masker, akhirnya kami tiba di jamarat, tempat pelontaran jumroh. Keluar dari terowongan, ada papan petunjuk dengan tulisan 'Jamarat Third Floor'. Ini artinya kami diarahkan agar melontar jumroh di jamarat lantai tiga. Cara ini merupakan strategi agar pelontaran jumroh lebih teratur dan aman.
Tiba di jamarat, jamaah sudah sangat padat. Kami harus berdesakan untuk mendapatkan posisi depan melontar jumroh. "Allahu akbar! Allahu akbar!" teriak kami saat akan melemparkan batu ke jamarat.
Alhamdulillah 7 batu kerikil berhasil terlontarkan mengenai dinding jamarat. Begitu kami berbalik untuk keluar dari antrean, jamaah di belakang kami langsung mendesak maju ke depan.
"Di jumroh aqobah inilah diriwayatkan sebelah mata setan kena lemparan batu," jelas Pak Imam.
"Apakah setan kemudian marah dan balas melempar Pak?" tanya saya iseng.
Mbak Yety, wartawan TVRI, memberi isyarat agar aku tidak bercanda berlebihan karena kami sedang di tanah suci. "Astaghfirullah," ucap saya menjawab imbauan Mbak Yety. Sementara Pak Imam hanya tersenyum.
Melempar jumroh merupakan ibadah yang mengikuti jejak Nabi Ibrahim. Mina merupakan tempat Nabi Ibrahim untuk melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih putranya, Ismail.
Dalam perjalanan itu, setan menggoda Nabi Ibrahim, Siti Hajar dan Ismail agar menolak perintah Tuhan tersebut. Mereka digoda di tiga tempat dan setiap digoda, Ibrahim sekeluarganya melemparkan batu ke arah setan tersebut. Di tempat itulah kemudian didirikan tiga jamarat, ula, wustho dan aqobah atau kubro.
Melontar jamarat mengingatkan jamaah haji bahwa setan akan selalu menghalangi manusia yang akan melakukan kebaikan. Selama manusia hidup, setan tidak akan pernah berhenti menggoda manusia agar mengikuti jalannya.
Hanya orang yang ikhlas seperti Nabi Ibrahim yang bisa selamat dari godaan setan dan lulus dari ujian Tuhan. Saat pisau Ibrahim mendekati leher Ismail, Allah menggantinya dengan domba dan Ibrahim pun berhasil mengalahkan setan dan lulus dari ujian.
"Kalau Nabi Ibrahim mah enak Pak, setannya masih kelihatan, kalau datang bisa dilempari batu. Lah kalau sekarang Pak, susah kita mengalahkannya," ceplos saya pada Pak Imam.
Pak Imam berkata, yang penting kita telah berusaha dan tidak putus asa. "Meski tidak kelihatan kita bisa merasakannya, kalau kita berbuat sesuatu dan hati kita tidak tentram itu biasanya hasil godaan setan," jelas Pak Imam.
Setelah melontar jumroh, kami menggunting sedikit rambut atau melakukan tahalul.
Saat bertahalul kami berdoa, "Ya Allah jadikanlah untuk setiap helai rambut (yang aku gunting) cahaya pada hari kiamat."
Kami kemudian pulang meninggalkan jamarat. Di sepanjang jalan, jamaah haji pria banyak bercukur. Rambut berserakan di sana-sini. Panas masih terik, ibadah haji kami belum selesai.
Esok selain liputan mencari berita, kami masih harus mabit atau bermalam di Mina, yang berarti kami mau tidak mau harus berjalan kaki lagi 2 km, melontar jumroh dan tawaf wadak. Kami menyadari ibadah haji sungguh ibadah yang berat secara fisik dan psikis.
Angin kembali berhembus kencang, menerbangkan debu-debu yang sesekali masuk ke mata kami. Kami terus berjalan, berusaha mengalahkan godaan setan untuk menyerah pada kecapekan yang mengalir di setiap darah kami.
(iy/nwk)











































