"Mau dimasak apa dijual?" kata salah satu dari pengepul daging itu di pintu keluar Masjid Istiqlal, Jl Pejambon, (Kantor Pertamina) Jakarta, Kamis (18/11/2010).
Warga yang baru keluar dari pintu gerbang pun tergoda dengan tawaran tersebut. Tawar menawar pun terjadi di antara mereka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Wah mahal, kagak jadi dah. Ceban (Rp 10 ribu) gua bayarin," kata pengepul itu.
Seorang nenek yang baru keluar dari pintu gerbang langsung menawarkan dagingnya ke para pengepul. Tanpa tawar menawar, dia langsung memberikan daging yang dibungkus plastik putih tersebut.
"Mau dimasak pake apa? Ngga punya kompor saya" kata dia saat ditanya mengapa daging itu dijual.
Untuk daging kambing, para pengepul menawar dengan harga Rp 10-15 ribu. Namun, tidak semua semua menerima tawaran itu. Ada juga yang menolaknya.
"Capek nunggunya Mas dari pagi. Masa ditawar segitu. Mending buat keluarga," ujar warga lainnya.
Pantauan detikcom, ada sekitar empat hingga enam pengepul daging menunggu di pintu keluar. Mereka suda terlihat membawa kantong plastik besar untuk menampung daging warga.
"Daging apa saja. Kalau mau dijual yang kita beli. Kita jual lagi atau kita masak sendiri," kata salah pengepul itu.
Sekertaris Badan Pengelola Masjid Istiqlal Subandi mengatakan hal itu di luar tanggung jawabnya. Sebab, daging kurban tersebut adalah hak warga dan tidak bisa dilarang penggunaannya.
"Ini hak dia mau dimasak atau dijual. Apalagi transaksinya di luar kompleks masjid, jadi kita nggak bisa pantau," kata Subandi.
(mpr/mad)











































