Akbar Tanjung: Ada yang Ingin Melemahkan Partai Golkar

Akbar Tanjung: Ada yang Ingin Melemahkan Partai Golkar

- detikNews
Rabu, 17 Nov 2010 10:50 WIB
Akbar Tanjung: Ada yang Ingin Melemahkan Partai Golkar
Jakarta - Ketua Dewan Pembina Partai Golkar, Akbar Tanjung, cukup gerah dengan isu yang menimpa Partai Golkar akhir-akhir ini. Ia menilai, isu itu untuk melemahkan partai berlambang beringin ini.

"Isu di hari-hari terakhir ini, tidak lepas dari upaya pelemahan, dan penurunan citra partai. Dan ini harus jadi tantangan partai," kata Akbar Tanjung usai salah Idul Adha di kantor DPP Partai Golkar, Jl Anggrek Neli Murni, Slipi, Jakarta, (17/11/2010).

Akbar mengatakan, ada pihak-pihak yang menginginkan citra Golkar merosot pada Pilpres 2014 nanti. Makanya, intrik dan 'permainan' seperti ini diwacanakan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini tidak lepas dari permainan dari orang-orang yang menginginkan Golkar mengalami kemunduran. Kemunduran citra partai, kemunduran citra tokoh partai. Dan muaranya pada Pemilu 2014," terang Akbar.

Akbar mengimbau kepada kader Golkar agar siap menghadapi siu-isu seperti ini. Sebab. Golkar telah teruji menghadapi isu yang paling menyakitkan sekalipun.

"Kita harus siap pada cobaan. Dan itu sudah kita alami, bahkan lebih dari itu. Pada tahun 1998-1999, betapa tekanan-tekanan kepada partai begitu intensif. Begitu masif, mengarah pada pembubaran partai. Tapi alhamdulillah kita bisa melewati itu," jelasnya.

Nama Aburizal Bakrie akhir-akhir ini dihubung-hubungkan dengan Gayus Tambunan. Ical dituding bertemu Gayus saat menonton tenis di Bali beberapa waktu lalu. Namun isu ini belum ada pembuktiannya secara pasti.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie meminta semua pihak berhenti menebar isu pertemuannya dengan mafia pajak Gayus Tambunan di Bali. Ical membantah adanya pertemuan tersebut dan menegaskan bahwa pertemuan tersebut hanyalah bentuk intrik politik.

"Isu itu saya kira sesuatu yang tidak layak kita teruskan, itu suatu bentuk intrik politik dan itu tidak ada gunanya dan tidak ada manfaatnya untuk bangsa yang produktif," ujar Ical.
(gun/gah)


Berita Terkait