Menurut Irjah (25), ketika tiba di lokasi salat Salahatun tampak sering diam dan tidak banyak bicara terlihat kelelahan. "Saya sempat mengajak bicara tetapi Dik Atun (panggilan akrab-red) selalu menjawab hanya dengan sepatah kata saja. Saya maklum mungkin dia kelelahan dan banyak pikiran karena keluarganya mengungsi dan tinggal hanya di gudang Bulog," tutur Irjah, Rabu (17/11/2010).
Irjah sontak membatalkan salatnya ketika masuk rakaat kedua untuk menolong Salahatun. Sebab Salahatun tiba-tiba jatuh lemas di depannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salahatun mendadak berontak dan berteriak-teriak memanggil nama orang ketika sudah dievakuasi ke ruanggan medis. Ustad Junaidi yang menjadi khatib terpaksa mempersingkat khutbahnya untuk memberikan pertolongan pada Salahatun.
Junaidi membacakan doa dan membasuh muka, tangan, dan kaki Salahatun dengan air. tak lama kemudian Salahatun pun akhirnya tenang dan tidak berteriak-teriak lagi.
Ustad Junaidi menjelaskan, kesurupan yang menimpa Salahatun disebabkan karena korban sering melamun dan pikiranya melayang. Apalagi kondisi di pengungsian membuat Salahatun sedikit melemah mental dan perasaanya.
"Insya Allah kalau dia selalu ingat kepada Allah dan pikirannya tidak melayang kemana-mana tidak akan terjadi lagi kesurupan ini," tegas Junaidi.
Salat Idul Adha di pengungsian Gudang Bulog 501 Magelang ini sedikitnya diikuti oleh 2.000-an pengungsi yang berasal dari kecamatan Srumbung, Muntilan dan Dukun. Usai melakukan ibadah salat Idul Adha, ribuan pengungsi ini akan menyembelih seekor sapi. Namun, daging dari sapi itu tidak dibagikan mentah melainkan akan diberikan kepada pengungsi dalam bentuk makanan.
(gah/gah)











































