"Indonesia memerlukan sentra-sentra seperti itu di lokasi yang rawan bencana," kata Boediono dalam jumpa pers di atas kereta Shinkansen Nozomi 34 rute Kobe ke Tokyo, Selasa (16/11/2010).
Di Kobe, Wapres sebelumnya mengunjungi pusat riset dan pengendalian risiko bencana atau Asian Disaster Reduction Center (ADRD). Selain itu, ia juga mengunjungi Disaster Reduction and Human Renovation Institution (DR-HRI) atau pusat pengendalian risiko gempa dan pemulihan kehidupan masyarakat Kobe. DR-HRI terbentuk tahun 2002, 7 tahun setelah gempa dahsyat menghancurkan kota di tepi pantai tersebut pada tahun 1995.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau tanggap darurat kita bisa andalkan kemampuan sendiri. Tapi kapasitas teknis (seperti yang ada di ADRD dan DR-HRI), adalah hal yang bisa kita pelajari," ungkapnya.
Sesungguhnya, lanjut mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) ini, Indonesia adalah salah satu dari 21 negara anggota ADRD. Akan tetapi, fasilitas di ADRD itu belum dimanfaatkan secara maksimal oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
"(Pusat baru nanti) disainnya apakah menjadi bagian dari BNPB atau tidak, nanti akan diputuskan," tutup Boediono.
(irw/gun)











































