Hal itu dikatakan Wakil Presiden (Wapres) Boediono saat mengunjungi Disaster Reduction and Human Renovation Institution (DR-HRI) di Kobe, Jepang, Selasa (16/11/2010). DRI adalah
pusat pengendalian risiko gempa dan pemulihan kehidupan masyarakat Kobe. DR-HRI terbentuk tahun 2002, 7 tahun setelah gempa dahsyat menghancurkan kota pantai tersebut pada tahun 1995.
"Kami ingin Indonesia lebih aktif lagi dalam kegiatan di center maupun semua tadi, termasuk Asian Disaster Reduction Center," ujar Boediono usai mendengar paparan dari vice executive director DR-HRI dan executive director ADRD.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Turut menyertai kunjungan Wapres kali ini beberapa menteri, yakni Menko Ekonomi Hatta Rajasa, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Menteri Keuangan Agus Martowardjojo, Menteri Perindustrian MS Hidayat dan Sekretaris BNPB Fatchul Hadi.
Wakil Direktur Utama DR-HRI Takuya Hashimoto kepada rombongan sebelumnya mengatakan, lembaganya mempunyai beberapa bagian. Bagian-bagian tersebut antara lain museum Gempa Kobe, sumber dokumen dan material, penelitian untuk mengurangi risiko bencana, serta pelatihan manajemen bencana.
Saat ini DR-HRI mempunyai 170 volunter, 45 penjaga stan, 50 orang penerjemah bahasa Inggris, Korea, China, dan Spanyol. Total koleksi yang dimiliki DR HRI berjumlah 171.437, terdiri dari paper (163.000), material (1.4150) foto (5.794), serta audio visual (1.131). DR-HRI juga mempunyai 10 peneliti senior bergelar profesor, 7 peneliti yang sedang dipromosikan, dan wartawan.
Sementara itu, Direktur Eksekutif ADRD Atsushi Koresawa menceritakan riwayat berdirinya ADRD. ADRD memiliki program berbagi informasi mengenai penanggulangan bencana alam, pengembangan SDM, dan membangun kemampuan komunitas masyarakat untuk tanggap darurat. Hingga saat ini, ADRD mempunyai 21 negara anggota di Asia, termasuk Indonesia, yang diwakili oleh BNPB.
(irw/gun)










































